Berita Yang Menghebohkan Umat Islam
Saturday, 11 June 2016
KULTUM RAMADHAN MALAM KEDELAPAN
*KULTUM MALAM KEDELAPAN*
ِبسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ َأصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Malam ini kita telah sampai kepada Kultum Ramadhan Kedelapan, sekaligus pada malam Kedelapan pula. Semoga Allah senantiasa mengabulkan puasa dan amal ibadah lain kita semua. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do'a.
Saudara-saudara! Di antara keutamaan bulan Ramadhan, *_(ulangi hadits pada Kultum Kedua)_* Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaymah dari Salman ra:
وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةُ
*“Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedang kesabaran pahalanya adalah surga*”.
Kalau pada Kultum yang lalu kita mengulas tentang bulan Ramadhan itu bulan kesabaran, maka kali ini In Syaa Allah kita kupas kelanjutan dari sabda Rasulullah ﷺ tersebut yaitu:
وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةُ
*“sedang kesabaran pahalanya adalah surga”*.
_*Surga adalah puncak pahala orang-orang yang bersabar.*_
*Sebelum mereka sampai di surga, semasih di dunia mereka telah mendapatkan banyak pahala dan anugerah lain dari Allah swt.*
*Antara lain*:
*_1. Semenjak di dunia orang-orang sabar telah menjadi kekasih Allah swt._*
وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ (آل عمران : 146)
_“Allah mencintai orang- orang yang sabar”_ (QS. Ali Imran,3: 146).
*_2. Semenjak di dunia pula Allah dwt menyertai orang-orang sabar._*
إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ (البقرة : 249)
_“Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang sabar”_ (QS. Al Baqarah,2: 249)
_Apabila kedua anugerah kepada orang-orang sabar ini kita hayati, apa artinya sabar dengan segala bentuk dan dimensinya ketimbang kedua puncak anugerah itu!_
_*Amat cukuplah bagi seorang mu`min mendapat anugerah dicintai Allah dan disertai-Nya, karena kekasih Allah senantiasa disertai-Nya dan selalu dalam bimbingan, hidayat, rahmat dan pertolongan-Nya, sehingga semenjak di dunia kekasih Allah diberi kemenangan kepada musuh-musuhnya, wawasan dan obsesinya selalu menjadi kenyataan, dan di hati orang-orang mumin mendapatkan kedudukan dan pangkat yang tinggi.*_
*Bayangkan, Nabi Yusuf ﷺ mendapatkan keni’matan dan pangkat serta kedudukan setelah bersabar menempuh dan menumbangkan liku-liku ujian makar dan tipu daya dari saudara-saudaranya dengan penuh taqwa kepada Allah swt.*
Allah swt menjelaskan di dalam Al Qur’an:
قَالَ أَنَا يُوْسُفُ وَهَذَا أَخِيْ. قَدْ مَنَّ اللهُ عَلَيْنَا . إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَ يَصْبِرْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُضِيْعُ أَجْرَ المُحْسِنِيْنَ (يوسف : 90)
_“Yusuf berkata: Akulah Yusuf dan ini saudaraku! Allah benar-benar telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”._
(QS. Yusuf, 12: 90)
*Bahkan Allah swt menjamin untuk melindungi orang yang bersabar dan bertaqwa, sekalipun kaum Ahlul Kitab menyimpan rasa dendam, permusuhan dan mereka hendak mencelakakannya.
Firman Allah swt:
وَإِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا . إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ (آل عمران: 120)
_“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”_. (QS. Ali Imran, 3: 120).
*Ini baru jaminan dunia. Belum lagi jaminan akhirat.* _Allah akan melipatgandakan pahala orang-orang yang bersabar,_ Sebagaimana fiman-Nya:
أُولَئِكَ يُؤْتُوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوْا (القصص: 54)
_“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka”._
(QS. Al Qashash, 28: 54)
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (الزمر : 10)
_“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”_ (QS. Az Zumar, 39: 10)
_*Apabila pahala orang-orang yang bersabar diberikan penuh tanpa batas, sudah barang tentu kebaikan-kebaikan mereka melebihi kejelekan-kejelekannya, kemudian mereka dimasukkan ke surga. Yang demikian itu kalau mereka mempunyai kejelekan. Kalau tidak, sudah jelas mereka datang ke hari kiamat tanpa membawa kejelekan. Ini terjadi, karena ujian dan musibah yang menimpa seorng mumin di dunia dapat membersihkan mereka dari dosa-dosa, sebagaimana pula dapat menaikkan derajat mereka.*_
Dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri ra dan Abu Hurairah ra, dari Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيْبُ اْلمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ – أَيْ مَرَضٍ – وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
(رواه البخاري ومسلم )
_“Kelelahan apapun yang menimpa seorang muslim, penyakit, kecemasan dan kesedihan, sampai tertusuk duri sekalipun, melainkah Allah menebus dosa-dosa dia karenanya”._ (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَ اْلمُؤْمِنَةِ فِيْ نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
(رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح )
_*“Bertubi-tubi ujian seorang beriman laki dan perempuan, yang menimpa dirinya, anaknya, dan hartanya, sehingga dia menghadap Allah tanpa membawa satu dosapun”.*_
(HR. Tirmidzi. Dia berkata Hadits Hasan Shahih)
_Kalau musibah menebus dosa-dosa seorang mu'min yang sabar, sudah pasti di hari kiamat orang itu datang dengan lembaran amal yang penuh kebajikan saja. Lalu dia mendapat imbalan dari Allah dan masuk surga_. Itulah firmn Allah (:
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (النحل : 96)
_“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”._
(QS. An Nahl,16: 96)
_Suatu musibah yang menimpa seorang mu’min, lalu dia bersabar, maka Allah swt menjadikan penebus dosa-dosanya , dan melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah kepadanya_. Sebagaimana dalam firman-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّهُمْ بِشَيْئٍ مِنَ اْلخَوْفِ وَاْلجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ، وَبَشِّرِالصَّابِرِيْنَ . اَلَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ . أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ . وَأُولَئِكَ هُمُ اْلمُهْتَدُوْنَ . (البقرة: 155 – 157)
_“Dan sungguh akan Kami beri mereka cobaan dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan . Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:_
*( إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ-
_*Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun)*_
_Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali-. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”_. (QS. Al Baqarah, 2: 155 – 157).
Dalam hadits Rasulullah ﷺ dari Abu Hurairah ra beliau bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُوْنُ لَهُ عِنْدَاللهِ اْلمَنْزِلَةُ فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ ، فَمَا يَزَالُ يَبْتَلِيْهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ إِيَّاهَا
(رواه أبو يعلى وابن حبان في صحيحه)
_*“Sesungguhnya seseorng di sisi Allah ada yang mempunyai kedudukan istimewa, lalu tidak dapat dicapai dengan amal. Maka Allah mencobanya bertubi-tubi dengan cobaan yang tidak disenangi sampai Dia hantarkan orang itu kepada kedudukan istimewa itu.*_
(HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya)
Dalam hadits lain disebutkan:
إِنَّ اْلعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللهِ مَنْزِلَةٌ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلٍ ، اِبْتَلاَهُ اللهُ فِيْ جَسَدِهِ أَوْ مَالِهِ أَوْ فِيْ وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ اْلمَنْزِلَةَ الَّتِيْ سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ (رواه الإمام أحمد في مسنده و أبو دود في سننه و الطبراني في معجميه الكبير و الأوسط)
_*“Sesungguhnya seorang hamba, apabila suatu kedudukan istimewa dari Allah telah dipertaruhkan untuk dia, lalu tidak bisa mencapainya dengan amal, maka Allah memberinya percobaan yang menimpa dirinya, harta atau anaknya, kemudian dia bersabar sampai ia mencapai kedudukan yang telah dipertaruhkan kepada-nya dari Allah*_ عز وجل”
(HR. Imam Ahmad di dalam Al Musnad, Abu Dawud dalam As Sunan, Ath Thabrai dalam Al Mu’jamul Kabir dan Al Mu’jamul Awsath).
Saudara-saudaraku hamba Allah swt رحمكم الله
Karunia dan anugerah Allah swt begitu besarnya kepada kita, melalui syariat puasa bulan Ramadhan. Puasa di bulan Ramadhan adalah merupakan training kaum beriman untuk menempa diri memperteguh hati dan pendirian *_melalui kesabaran,_* agar dapat meraih pahala dan kedudukan orang-orang yang sabar di dunia dan di akhirat kelak. Balasan apakah yang lebih besar dari pada pahala surga, sebagaimana disinyalir Rasulullah ﷺ :
وَ الصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةُ
_“sedang kesabaran pahalanya adalah surga”_
Dari sana kita ketahui rahasia kandungan sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri ra dari Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ (رواه البخاري ومسلم)
*_“Tak ada seorang yang diberi suatu anugerah, lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran”._* (HR. Bukhari dan Muslim)
Senada dengan hadits Salman ra bahwa pahala kesabaran itu surga, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Atha' bin Abi Rabah. Kata dia: Pernah Ibnu Abbas ra berkata kepadaku: _“Maukah aku perlihatkan kepadamu seorang perempuan penduduk surga?” Jawabku:” Ya”. Kata dia: Wanita hitam inilah yang pernah datang kepada Nabi ﷺ berkata: _Saya terjangkit penyakit ayan. Kalau kumat aurat saya bisa terbuka. Karena itu, do'akanlah untuk saya kepada Allah._ Nabi ﷺ bersabda: _Kalau kamu mau bersabar, bagimu surga. Kalau tidak, kudo'akan untukmu kesembuhan_. Jawab wanita itu: _*Saya akan bersabar saja*_. Selanjutnya kata wanita itu: _*Sesungguhnya ketika kambuh, aurat saya bisa tersingkap. Karena itu do'akanlah untuk saya agar aurat tidak tersingkap*_. Maka beliau mendo'akan perempuan itu_. (HR. Bukhari dan Muslim)
_Sebagai akhir dari pembicaraan kita tentang sabar, keterangan Al Quran dan As Sunnah ini bukan berarti menganjurkan umat Islam untuk berusaha mencari penyakit dan musibah. _Bukan berarti Islam menganjurkan pemeluknya agar berusaha mendapatkan cobaan dan bencana. Akan tetapi keterangan itu menjelaskan, betapa besarnya nilai kesabaran bagi seorang muslim. *_Kesabaran adalah sifat utama yang harus dimiliki setiap pemimpin dan pahlawan._*
_Kesabaran adalah tiang kekuatan dan kesempurnaan. *Barangsiapa tidak mendapatkan banyak bagian rizki kesabaran yang cukup, sungguh orang itu tidak dapat dijadikan panutan dalam mengemban amanat beban hidup orang lain.*_
_*Untuk membangun sebuah kultur, proyek, dan benteng pertahanan, baik lahiriyah atau batiniyah,SABAR adalah pangkal utama di samping akhlak mulia, serta semua cabang iman dan ranting-rantingnya.*_
*Karena itu, sabar adalah sifat luhur dalam Islam, yang pahalanya surga. Orang-orang sabar mendapat pahala yang berlipat ganda tanpa ada batas*.
_Maka Islam amat menghormati dan salut kepada setiap muslim yang kuat dan teguh hati, teguh pendirian, dan tabah menghadapi segala macam ujian dan cobaan, beban hidup dan musibah, tanpa merasa gundah atau berkeluh kesah pantang menyerah._
Dalam hadits Abu Hurayrah ra Rasulullah ﷺ bersabda:
اَلْمُؤْمِنُ اْلقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ اْلمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ. اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ " لَوْ " تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ( رواه مسلم )
*“Orang mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada orang mu’min lemah, Tapi masing-masing ada baiknya*. _Berusahalah kamu melakukan yang bermanfaat kepadamu, dan mohon tolonglah kepada Allah, jangan merasa lemah. Jika ada sesuatu menimpamu, janganlah berkata: *‘Andaikan aku lakukan, pasti begini jadinya’*. Tapi berkatalah: *_‘Allah telah menakdirkannya begitu. Apapun yang dikehendaki-Nya maka Dia melakukannya’. Karena kata-kata*_andaikan_ *membuka pintu amal perbuatan setan”*.
(HR. Muslim)
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى خَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ سَيِّدنَِا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Oleh : KH. AHMAD SJINQITHY DJAMALUDIN
ِبسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ َأصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Malam ini kita telah sampai kepada Kultum Ramadhan Kedelapan, sekaligus pada malam Kedelapan pula. Semoga Allah senantiasa mengabulkan puasa dan amal ibadah lain kita semua. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do'a.
Saudara-saudara! Di antara keutamaan bulan Ramadhan, *_(ulangi hadits pada Kultum Kedua)_* Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaymah dari Salman ra:
وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةُ
*“Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedang kesabaran pahalanya adalah surga*”.
Kalau pada Kultum yang lalu kita mengulas tentang bulan Ramadhan itu bulan kesabaran, maka kali ini In Syaa Allah kita kupas kelanjutan dari sabda Rasulullah ﷺ tersebut yaitu:
وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةُ
*“sedang kesabaran pahalanya adalah surga”*.
_*Surga adalah puncak pahala orang-orang yang bersabar.*_
*Sebelum mereka sampai di surga, semasih di dunia mereka telah mendapatkan banyak pahala dan anugerah lain dari Allah swt.*
*Antara lain*:
*_1. Semenjak di dunia orang-orang sabar telah menjadi kekasih Allah swt._*
وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ (آل عمران : 146)
_“Allah mencintai orang- orang yang sabar”_ (QS. Ali Imran,3: 146).
*_2. Semenjak di dunia pula Allah dwt menyertai orang-orang sabar._*
إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ (البقرة : 249)
_“Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang sabar”_ (QS. Al Baqarah,2: 249)
_Apabila kedua anugerah kepada orang-orang sabar ini kita hayati, apa artinya sabar dengan segala bentuk dan dimensinya ketimbang kedua puncak anugerah itu!_
_*Amat cukuplah bagi seorang mu`min mendapat anugerah dicintai Allah dan disertai-Nya, karena kekasih Allah senantiasa disertai-Nya dan selalu dalam bimbingan, hidayat, rahmat dan pertolongan-Nya, sehingga semenjak di dunia kekasih Allah diberi kemenangan kepada musuh-musuhnya, wawasan dan obsesinya selalu menjadi kenyataan, dan di hati orang-orang mumin mendapatkan kedudukan dan pangkat yang tinggi.*_
*Bayangkan, Nabi Yusuf ﷺ mendapatkan keni’matan dan pangkat serta kedudukan setelah bersabar menempuh dan menumbangkan liku-liku ujian makar dan tipu daya dari saudara-saudaranya dengan penuh taqwa kepada Allah swt.*
Allah swt menjelaskan di dalam Al Qur’an:
قَالَ أَنَا يُوْسُفُ وَهَذَا أَخِيْ. قَدْ مَنَّ اللهُ عَلَيْنَا . إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَ يَصْبِرْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُضِيْعُ أَجْرَ المُحْسِنِيْنَ (يوسف : 90)
_“Yusuf berkata: Akulah Yusuf dan ini saudaraku! Allah benar-benar telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”._
(QS. Yusuf, 12: 90)
*Bahkan Allah swt menjamin untuk melindungi orang yang bersabar dan bertaqwa, sekalipun kaum Ahlul Kitab menyimpan rasa dendam, permusuhan dan mereka hendak mencelakakannya.
Firman Allah swt:
وَإِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا . إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ (آل عمران: 120)
_“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”_. (QS. Ali Imran, 3: 120).
*Ini baru jaminan dunia. Belum lagi jaminan akhirat.* _Allah akan melipatgandakan pahala orang-orang yang bersabar,_ Sebagaimana fiman-Nya:
أُولَئِكَ يُؤْتُوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوْا (القصص: 54)
_“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka”._
(QS. Al Qashash, 28: 54)
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (الزمر : 10)
_“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”_ (QS. Az Zumar, 39: 10)
_*Apabila pahala orang-orang yang bersabar diberikan penuh tanpa batas, sudah barang tentu kebaikan-kebaikan mereka melebihi kejelekan-kejelekannya, kemudian mereka dimasukkan ke surga. Yang demikian itu kalau mereka mempunyai kejelekan. Kalau tidak, sudah jelas mereka datang ke hari kiamat tanpa membawa kejelekan. Ini terjadi, karena ujian dan musibah yang menimpa seorng mumin di dunia dapat membersihkan mereka dari dosa-dosa, sebagaimana pula dapat menaikkan derajat mereka.*_
Dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri ra dan Abu Hurairah ra, dari Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيْبُ اْلمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ – أَيْ مَرَضٍ – وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
(رواه البخاري ومسلم )
_“Kelelahan apapun yang menimpa seorang muslim, penyakit, kecemasan dan kesedihan, sampai tertusuk duri sekalipun, melainkah Allah menebus dosa-dosa dia karenanya”._ (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَ اْلمُؤْمِنَةِ فِيْ نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
(رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح )
_*“Bertubi-tubi ujian seorang beriman laki dan perempuan, yang menimpa dirinya, anaknya, dan hartanya, sehingga dia menghadap Allah tanpa membawa satu dosapun”.*_
(HR. Tirmidzi. Dia berkata Hadits Hasan Shahih)
_Kalau musibah menebus dosa-dosa seorang mu'min yang sabar, sudah pasti di hari kiamat orang itu datang dengan lembaran amal yang penuh kebajikan saja. Lalu dia mendapat imbalan dari Allah dan masuk surga_. Itulah firmn Allah (:
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (النحل : 96)
_“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”._
(QS. An Nahl,16: 96)
_Suatu musibah yang menimpa seorang mu’min, lalu dia bersabar, maka Allah swt menjadikan penebus dosa-dosanya , dan melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah kepadanya_. Sebagaimana dalam firman-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّهُمْ بِشَيْئٍ مِنَ اْلخَوْفِ وَاْلجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ، وَبَشِّرِالصَّابِرِيْنَ . اَلَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ . أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ . وَأُولَئِكَ هُمُ اْلمُهْتَدُوْنَ . (البقرة: 155 – 157)
_“Dan sungguh akan Kami beri mereka cobaan dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan . Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:_
*( إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ-
_*Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun)*_
_Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali-. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”_. (QS. Al Baqarah, 2: 155 – 157).
Dalam hadits Rasulullah ﷺ dari Abu Hurairah ra beliau bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُوْنُ لَهُ عِنْدَاللهِ اْلمَنْزِلَةُ فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ ، فَمَا يَزَالُ يَبْتَلِيْهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ إِيَّاهَا
(رواه أبو يعلى وابن حبان في صحيحه)
_*“Sesungguhnya seseorng di sisi Allah ada yang mempunyai kedudukan istimewa, lalu tidak dapat dicapai dengan amal. Maka Allah mencobanya bertubi-tubi dengan cobaan yang tidak disenangi sampai Dia hantarkan orang itu kepada kedudukan istimewa itu.*_
(HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya)
Dalam hadits lain disebutkan:
إِنَّ اْلعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللهِ مَنْزِلَةٌ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلٍ ، اِبْتَلاَهُ اللهُ فِيْ جَسَدِهِ أَوْ مَالِهِ أَوْ فِيْ وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ اْلمَنْزِلَةَ الَّتِيْ سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ (رواه الإمام أحمد في مسنده و أبو دود في سننه و الطبراني في معجميه الكبير و الأوسط)
_*“Sesungguhnya seorang hamba, apabila suatu kedudukan istimewa dari Allah telah dipertaruhkan untuk dia, lalu tidak bisa mencapainya dengan amal, maka Allah memberinya percobaan yang menimpa dirinya, harta atau anaknya, kemudian dia bersabar sampai ia mencapai kedudukan yang telah dipertaruhkan kepada-nya dari Allah*_ عز وجل”
(HR. Imam Ahmad di dalam Al Musnad, Abu Dawud dalam As Sunan, Ath Thabrai dalam Al Mu’jamul Kabir dan Al Mu’jamul Awsath).
Saudara-saudaraku hamba Allah swt رحمكم الله
Karunia dan anugerah Allah swt begitu besarnya kepada kita, melalui syariat puasa bulan Ramadhan. Puasa di bulan Ramadhan adalah merupakan training kaum beriman untuk menempa diri memperteguh hati dan pendirian *_melalui kesabaran,_* agar dapat meraih pahala dan kedudukan orang-orang yang sabar di dunia dan di akhirat kelak. Balasan apakah yang lebih besar dari pada pahala surga, sebagaimana disinyalir Rasulullah ﷺ :
وَ الصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةُ
_“sedang kesabaran pahalanya adalah surga”_
Dari sana kita ketahui rahasia kandungan sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri ra dari Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ (رواه البخاري ومسلم)
*_“Tak ada seorang yang diberi suatu anugerah, lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran”._* (HR. Bukhari dan Muslim)
Senada dengan hadits Salman ra bahwa pahala kesabaran itu surga, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Atha' bin Abi Rabah. Kata dia: Pernah Ibnu Abbas ra berkata kepadaku: _“Maukah aku perlihatkan kepadamu seorang perempuan penduduk surga?” Jawabku:” Ya”. Kata dia: Wanita hitam inilah yang pernah datang kepada Nabi ﷺ berkata: _Saya terjangkit penyakit ayan. Kalau kumat aurat saya bisa terbuka. Karena itu, do'akanlah untuk saya kepada Allah._ Nabi ﷺ bersabda: _Kalau kamu mau bersabar, bagimu surga. Kalau tidak, kudo'akan untukmu kesembuhan_. Jawab wanita itu: _*Saya akan bersabar saja*_. Selanjutnya kata wanita itu: _*Sesungguhnya ketika kambuh, aurat saya bisa tersingkap. Karena itu do'akanlah untuk saya agar aurat tidak tersingkap*_. Maka beliau mendo'akan perempuan itu_. (HR. Bukhari dan Muslim)
_Sebagai akhir dari pembicaraan kita tentang sabar, keterangan Al Quran dan As Sunnah ini bukan berarti menganjurkan umat Islam untuk berusaha mencari penyakit dan musibah. _Bukan berarti Islam menganjurkan pemeluknya agar berusaha mendapatkan cobaan dan bencana. Akan tetapi keterangan itu menjelaskan, betapa besarnya nilai kesabaran bagi seorang muslim. *_Kesabaran adalah sifat utama yang harus dimiliki setiap pemimpin dan pahlawan._*
_Kesabaran adalah tiang kekuatan dan kesempurnaan. *Barangsiapa tidak mendapatkan banyak bagian rizki kesabaran yang cukup, sungguh orang itu tidak dapat dijadikan panutan dalam mengemban amanat beban hidup orang lain.*_
_*Untuk membangun sebuah kultur, proyek, dan benteng pertahanan, baik lahiriyah atau batiniyah,SABAR adalah pangkal utama di samping akhlak mulia, serta semua cabang iman dan ranting-rantingnya.*_
*Karena itu, sabar adalah sifat luhur dalam Islam, yang pahalanya surga. Orang-orang sabar mendapat pahala yang berlipat ganda tanpa ada batas*.
_Maka Islam amat menghormati dan salut kepada setiap muslim yang kuat dan teguh hati, teguh pendirian, dan tabah menghadapi segala macam ujian dan cobaan, beban hidup dan musibah, tanpa merasa gundah atau berkeluh kesah pantang menyerah._
Dalam hadits Abu Hurayrah ra Rasulullah ﷺ bersabda:
اَلْمُؤْمِنُ اْلقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ اْلمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ. اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ " لَوْ " تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ( رواه مسلم )
*“Orang mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada orang mu’min lemah, Tapi masing-masing ada baiknya*. _Berusahalah kamu melakukan yang bermanfaat kepadamu, dan mohon tolonglah kepada Allah, jangan merasa lemah. Jika ada sesuatu menimpamu, janganlah berkata: *‘Andaikan aku lakukan, pasti begini jadinya’*. Tapi berkatalah: *_‘Allah telah menakdirkannya begitu. Apapun yang dikehendaki-Nya maka Dia melakukannya’. Karena kata-kata*_andaikan_ *membuka pintu amal perbuatan setan”*.
(HR. Muslim)
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى خَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ سَيِّدنَِا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Oleh : KH. AHMAD SJINQITHY DJAMALUDIN
Syafa'at (pembelaan) Al-Quran di Alam Kubur
_*Syafa'at (pembelaan) Al-Quran di Alam Kubur.*_
- Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda:
*_“Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an._*
_Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.”_ _(Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya)_.
*_Bazzar meriwayatkan dalam kitab_* _La’aali Masnunah_ _*bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.*_
*_Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.*_
*_Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”_*
_Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan._
_Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”_
*_Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la._* (Himpunan Fadhilah Amal : 609)
*Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.*
_Allah…terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya._
*_Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Aamiin.._*
Oleh: Prof. DR. Ahmad Sathori Ismail.🌷🌷🌷👏👏👏👳🏻👳🏻👳🏻
- Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda:
*_“Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an._*
_Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.”_ _(Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya)_.
*_Bazzar meriwayatkan dalam kitab_* _La’aali Masnunah_ _*bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.*_
*_Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.*_
*_Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”_*
_Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan._
_Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”_
*_Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la._* (Himpunan Fadhilah Amal : 609)
*Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.*
_Allah…terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya._
*_Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Aamiin.._*
Oleh: Prof. DR. Ahmad Sathori Ismail.🌷🌷🌷👏👏👏👳🏻👳🏻👳🏻
Friday, 10 June 2016
KISAH SAYYIDINA ALI DAN BUAH DELIMA
❤Kisah Sayyidina Ali Dan Buah Delima❤
Dikisahkan oleh Ka’ab bin Akhbar. Suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib bertanya kepada istrinya yang sedang sakit yaitu Siti Fatimah Az-Zahra, Puteri Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam. "Wahai Fatimah, adakah engkau menginginkan sesuatu?". Lalu Siti Fatimah menjawab “Wahai Suamiku, aku ingin buah delima". Sayyidina Ali termenung seketika kerana tidak memiliki uang untuk membelikan istrinya buah delima. Beliau segera bangun dan berusaha untuk mendapatkan uang walaupun hanya satu dirham. Maka dengan segala usaha, akhirnya Sayyidina Ali berhasil mendapatkan uang itu lalu kemudian beliau pergi ke pasar. Pilihan jatuh kepada buah delima yang merupakan kesukaan Siti Fatimah. Setelah membeli sebiji buah delima, beliau segera pulang ke rumah.
Ketika dalam perjalanan ke rumahnya, tiba-tiba beliau melihat orang tua terbaring sakit di tepi jalan, Sayyidina Ali merasa kasihan lalu beliau berhenti dan menghampirinya. “Wahai orang tua, apa yang engkau inginkan?”, tanya Sayyidina Ali. “Wahai Ali, aku sudah lima hari terbaring sakit di tempat ini, banyak orang lalu lalang, namun tiada seorang pun yang mempedulikanku. Aku ingin sekali makan buah delima.” Jawab orang tua tersebut.
Mendengar jawabannya, Sayyidina Ali terdiam, sambil berkata dalam hati,
“Buah delima yang hanya satu buah ini, sengaja aku beli untuk istriku tercinta, kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih. Namun jika tidak aku berikan ertinya aku tidak menepati firman Allah. "Terhadap si pengemis, engkau janganlah mengherdiknya" (QS. Al-Dhuha : 10). Juga sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam yang bermaksud, "janganlah sekali-kali engkau menolak pengemis, sekalipun ia di atas kenderaan".
Karena Sayyidina Ali mengetahui bahwa istrinya sangat menginginkan buah delima tersebut akhirnya buah tersebut dibagi menjadi dua. Kini ada di tangannya hanya separuh buah delima untuk istrinya. Lalu beliau meneruskan perjalanan kembali ke rumah. Tiba-tiba ada seorang lagi pengemis yang sangat kelaparan mengharapkan bantuan dari Sayyidina Ali. Rasa sayang yang tinggi terhadap sesama manusia tidak bisa menghalangi Sayyidina Ali untuk menyimpan buah delima itu, maka diberikanlah separuh lagi buah delima tersebut kepada pengemis itu.
Sampai di rumah Sayyidina Ali karromallahu wajhah menceritakan peristiwa itu kepada istrinya. Tahukah anda apa yang dikatakan oleh Siti Fatimah?
Dengan berlinang air mata, Siti Fatimah berkata kepada suami tercinta: “Wahai suamiku, kenapa engkau bersedih, demi Allah yang maha Perkasa dan Maha Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang pengemis itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu.”
Mendengar kata-kata istrinya itu Sayyidina Ali merasa gembira.
Selanjutnya, kamar Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam didatangi oleh Malaikat Jibril alaihissalam, yang memberitakan apa yang telah dilakukan oleh Sayyidina Ali, dan bersama Jibril alaihissalam terdapat 10 buah-buahan dari surga sebagai pengganti buah yang telah diberikan oleh Sayyidina Ali kepada pengemis tadi. Nabi shollallahu 'alaihi wasallam memanggil salah seorang sahabatnya yaitu Salman al-Farisi (ada yang mengatakan bahawa lelaki itu iyalah Abu Said al-Khudri) agar menghantar buah-buahan ini kepada Sayyidina Ali dan putrinya Fatimah az-Zahra.
Tidak lama kemudian datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu, lalu Sayyidina Ali berkata, “Siapakah tuan?”. “Aku Salman Al Farisi,” Jawab orang yang mengetuk pintu itu. Setelah pintu dibuka, Sayyidina Ali melihat Salman membawa sebuah wadah tertutup, dan diletakkkan di depan Sayyidina Ali, lalu Sayyidina Ali bertanya, “Dari manakah wadah ini wahai Salman?”.
“Aku menghantarkannya untukmu dari Allah subhanahu wata'ala melalui perantaraan Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam.” Jawabnya. Setelah penutup wadah tersebut dibuka, terlihat di dalamnya ada 9 biji buah delima. Sayyidina Ali kemudian berkata, Wahai Salman, jika ini memang untukku, pasti jumlahnya 10”. Lalu Sayyidina Ali r.a membacakan firman Allah subhanahu wata'ala, “Barangsiapa membuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali ganda amal balasannya”.(Al-An’am:160)
Salman pun tertawa mendengarnya, sambil mengembalikan sebiji lagi buah delima yang ada ditangannya, seraya berkata, “Wahai Ali, demi Allah, aku hanya sekadar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang engkau bacakan barusan tadi.”
Kisah ini tidak bermaksud untuk menunjukkan bahwa setiap apa yang kita keluarkan akan mendapat balasan 10 kali lipat, namun itu juga tidak mustahil dengan kuasa Allah subhanahu wata'ala. Janji Allah adalah sesuatu yang pasti. Masalahnya hanya balasan tersebut disegerakan di bumi atau nanti di akhirat. Apa yang lebih penting untuk kita fahami, betapa tinggi dan besarnya kasih sayang Allah subhanahu wata'ala kepada kita dan betapa kuatnya iman para sahabat nabi dan para tabi'in.
Semoga bermanfaat 🙏🏼
Dikisahkan oleh Ka’ab bin Akhbar. Suatu ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib bertanya kepada istrinya yang sedang sakit yaitu Siti Fatimah Az-Zahra, Puteri Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam. "Wahai Fatimah, adakah engkau menginginkan sesuatu?". Lalu Siti Fatimah menjawab “Wahai Suamiku, aku ingin buah delima". Sayyidina Ali termenung seketika kerana tidak memiliki uang untuk membelikan istrinya buah delima. Beliau segera bangun dan berusaha untuk mendapatkan uang walaupun hanya satu dirham. Maka dengan segala usaha, akhirnya Sayyidina Ali berhasil mendapatkan uang itu lalu kemudian beliau pergi ke pasar. Pilihan jatuh kepada buah delima yang merupakan kesukaan Siti Fatimah. Setelah membeli sebiji buah delima, beliau segera pulang ke rumah.
Ketika dalam perjalanan ke rumahnya, tiba-tiba beliau melihat orang tua terbaring sakit di tepi jalan, Sayyidina Ali merasa kasihan lalu beliau berhenti dan menghampirinya. “Wahai orang tua, apa yang engkau inginkan?”, tanya Sayyidina Ali. “Wahai Ali, aku sudah lima hari terbaring sakit di tempat ini, banyak orang lalu lalang, namun tiada seorang pun yang mempedulikanku. Aku ingin sekali makan buah delima.” Jawab orang tua tersebut.
Mendengar jawabannya, Sayyidina Ali terdiam, sambil berkata dalam hati,
“Buah delima yang hanya satu buah ini, sengaja aku beli untuk istriku tercinta, kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih. Namun jika tidak aku berikan ertinya aku tidak menepati firman Allah. "Terhadap si pengemis, engkau janganlah mengherdiknya" (QS. Al-Dhuha : 10). Juga sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam yang bermaksud, "janganlah sekali-kali engkau menolak pengemis, sekalipun ia di atas kenderaan".
Karena Sayyidina Ali mengetahui bahwa istrinya sangat menginginkan buah delima tersebut akhirnya buah tersebut dibagi menjadi dua. Kini ada di tangannya hanya separuh buah delima untuk istrinya. Lalu beliau meneruskan perjalanan kembali ke rumah. Tiba-tiba ada seorang lagi pengemis yang sangat kelaparan mengharapkan bantuan dari Sayyidina Ali. Rasa sayang yang tinggi terhadap sesama manusia tidak bisa menghalangi Sayyidina Ali untuk menyimpan buah delima itu, maka diberikanlah separuh lagi buah delima tersebut kepada pengemis itu.
Sampai di rumah Sayyidina Ali karromallahu wajhah menceritakan peristiwa itu kepada istrinya. Tahukah anda apa yang dikatakan oleh Siti Fatimah?
Dengan berlinang air mata, Siti Fatimah berkata kepada suami tercinta: “Wahai suamiku, kenapa engkau bersedih, demi Allah yang maha Perkasa dan Maha Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang pengemis itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu.”
Mendengar kata-kata istrinya itu Sayyidina Ali merasa gembira.
Selanjutnya, kamar Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam didatangi oleh Malaikat Jibril alaihissalam, yang memberitakan apa yang telah dilakukan oleh Sayyidina Ali, dan bersama Jibril alaihissalam terdapat 10 buah-buahan dari surga sebagai pengganti buah yang telah diberikan oleh Sayyidina Ali kepada pengemis tadi. Nabi shollallahu 'alaihi wasallam memanggil salah seorang sahabatnya yaitu Salman al-Farisi (ada yang mengatakan bahawa lelaki itu iyalah Abu Said al-Khudri) agar menghantar buah-buahan ini kepada Sayyidina Ali dan putrinya Fatimah az-Zahra.
Tidak lama kemudian datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu, lalu Sayyidina Ali berkata, “Siapakah tuan?”. “Aku Salman Al Farisi,” Jawab orang yang mengetuk pintu itu. Setelah pintu dibuka, Sayyidina Ali melihat Salman membawa sebuah wadah tertutup, dan diletakkkan di depan Sayyidina Ali, lalu Sayyidina Ali bertanya, “Dari manakah wadah ini wahai Salman?”.
“Aku menghantarkannya untukmu dari Allah subhanahu wata'ala melalui perantaraan Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam.” Jawabnya. Setelah penutup wadah tersebut dibuka, terlihat di dalamnya ada 9 biji buah delima. Sayyidina Ali kemudian berkata, Wahai Salman, jika ini memang untukku, pasti jumlahnya 10”. Lalu Sayyidina Ali r.a membacakan firman Allah subhanahu wata'ala, “Barangsiapa membuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali ganda amal balasannya”.(Al-An’am:160)
Salman pun tertawa mendengarnya, sambil mengembalikan sebiji lagi buah delima yang ada ditangannya, seraya berkata, “Wahai Ali, demi Allah, aku hanya sekadar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang engkau bacakan barusan tadi.”
Kisah ini tidak bermaksud untuk menunjukkan bahwa setiap apa yang kita keluarkan akan mendapat balasan 10 kali lipat, namun itu juga tidak mustahil dengan kuasa Allah subhanahu wata'ala. Janji Allah adalah sesuatu yang pasti. Masalahnya hanya balasan tersebut disegerakan di bumi atau nanti di akhirat. Apa yang lebih penting untuk kita fahami, betapa tinggi dan besarnya kasih sayang Allah subhanahu wata'ala kepada kita dan betapa kuatnya iman para sahabat nabi dan para tabi'in.
Semoga bermanfaat 🙏🏼
KULTUM RAMADHAN MALAM KETUJUH
*KULTUM MALAM KETUJUH*
ِبسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ َأصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Malam ini kita telah sampai kepada Kultum Ramadhan Ketujuh, sekaligus pada malam ketujuh pula. Semoga Allah swt senantiasa mengabulkan puasa dan amal ibadah lain kita semua. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
Saudara-saudara! Di antara keutamaan bulan Ramadhan, *_(ulangi hadits pada Kultum Kedua)_* Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaymah dari Salman ra:
وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةُ
*“Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran,* *sedang kesabaran pahalanya adalah surga"*.
_Di antara hikmah puasa, setiap muslim belajar bersabar menahan segala keinginan nafsu, dan melatih memperteguh mental spiritual demi stabilisasi segala bentuk aktivitas dan emosionalnya_. *_Bukankah manusia dapat menjadi besar karena mampu mengatur dan mengendalikan segala macam bentuk aktivitas dan emosionalnya! Sebagaimana pula ia menjadi jatuh karena tidak mampu, atau lemah mengatur serta menahan aktivitas dan emosionalnya!_*
Ibnul Qayyim Al Jawzi رحمه الله berkata:
*Pada hakekatnya menurut etymologi, sabar ada tiga*, yaitu: _Menahan, kuat dan menghimpun._
Logikanya demikian:
1. *Bertahan atau Tahan Banting*
_Sabar ialah,_ *menahan diri ketika merasa gelisah.* *_Menahan lidah untuk tidak mengeluh atau mengadu. Menahan diri untuk tidak mengerjakan sesuatu yang tidak pantas._*
2. *Kuat atau hebat*
Dalam bahasa Arab, *obat dan jamu disebut Ash Shabir,* karena rasanya *sangat pahit*, yang disukai hanya ketika dalam keadaan terpaksa.
Dari pengertian bahasa ini, Al Ashmui berkata: _Apabila seseorang hidup penuh kesulitan, dia dikatakan seorang yang hidup penuh dengan kepahitan._
3. *Himpunan*, timbunan atau tumpukan
Sabar disebut demikian, _karena orang sabar_ mengerahkan dan menghimpun segala kemampuan untuk memerangi dan menahan segala macam kesedihan dan kegoncangan batin. Maka sebuah timbunan(صبرة), seperti tumpukan makanan, dalam bahasa Arab disebut *Shubratuth Tha`am*
(صبرة الطعام)
*Bulan puasa adalah bulan penuh up grading kesabaran.* _Kesabaran memang merupakan pangkal segala keutamaan perilaku dan mental spiritual seorang muslim._
*Marilah sifat-sifat berikut ini dihayati*:
_*Iffah (bersih diri)*_dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) untuk tidak mengikuti kesenangan nafsu.*
*_Kitman As sir (kuat menyimpan rahasia)_*, dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) untuk tidak senang dipuji dan tidak senang pamer kemampuan karena ingin dikagumi orang*.
_*Zuhd (berhati-hati terhadap hak sesama dan hak Allah)*_, dapat diraih karena mampu menahan diri (sabar) dalam memandang keindahan dunia.
*_Qana'ah (rasa puas hati)*_, dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) bersahaja,* yaitu merasa cukup terhadap apa adanya atau sabar menutupi kebutuhan orang lain ketika dia punya.
_*Hilm (penyantun)*_, dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) untuk memenuhi undangan seorang pemarah*.
*_Waqar (terhormat)_*, sifat ini dapat diraih karena mampu menahan diri (sabar) memenuhi undangan mendadak.
_*Shafh (pemaaf)*_ dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) memenuhi undangan pendendam*. Dan seterusnya…………..
_*Demikian analisys Ibnul Qayyim Al Jawzi رحمه الله, _*bahwa *semua nilai martabat dalam agama, pada dasarnya selalu berhubungan dengan sabar, baik dari tingkat dasar sampai tingkat puncak.*
Lembaga _Ramadhan bukan sekedar membangun sabar menahan makan, minum dan seksual an sich. Walau sabar dalam hal semua ini mempunyai nilai kebaikan dan manfaat besar, tapi terminal akhir kurikulumnya jauh lebih luas dan lebih luhur. Puasa menuntun seorang muslim berlajar dan berlatih sabar secara utuh dan sempurna dalam berbagai dimensinya_. Dari situlah terungkap rahasia sabda Nabi ﷺ dari Abu Hurayrah ra:
فَإِذَا كَانَ صَوْمُ يَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ.فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ (رواه البخاري و مسلم )
“Maka apabila seseorang di antara kamu sedang berpuasa, janganlah berkata cabul dan jangan pula berteriak-teriak. *Jika dimaki seseorang atau ditengkari, katakanlah: Sungguh aku berpuasa! Sungguh aku berpuasa!”.* (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain riwayat Abu Hurayrah ra Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَ الشُّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ . فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ .
(رواه ابن خزيمة وابن حبان و الحاكم وقال صحيح على شرط مسلم)
*‘Bukanlah puasa itu karena menahan makan dan minum, melainkan puasa itu menahan ucapan yang tak berguna dan kata-kata cabul.* Jika dimaki seseorang, atau ditengkari, katakanlah kepadanya: Sungguh aku berpuasa! Sungguh aku berpuasa!.
(HR Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibban dan Al Hakim. Kata Al Hakim, Shahih atas Syarat Muslim).
*Karena sabar merupakan pondasi utama moralitas mulia yang tidak dapat lepas dengan semua kedudukan dan pangkat dalam Islam dan semua cabang iman,* tidaklah heran kalau tema ini diungkap panjang lebar dan rinci di dalam beberapa ayat surat-surat Al Qur’anul Karim.
_1. Pada sebagian ayat kata sabar digandeng dengan kata *shalat*_. Sebagaimana firman Allah (:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ الله َمَعَ الصَّابِرِيْنَ (البقرة : 153)
_“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang sabar”._ (QS. Al Baqarah, 2: 153)
_2. Dalam sebagian ayat lain digandeng dengan *amal shalih,*_ seperti dalam ayat:
إ إِلاَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ (هود : 11)
“Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal shalih” (QS. Huud, 11: 11)
_3-Dalam ayat lain digandeng dengan kata *taqwa*_. Seperti dalam ayat:
إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ الله َلاَ يُضِيْعُ أَجْرَ اْلمُحْسِنِيْنَ (يوسف : 90)
_“Sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”_. (QS. Yusuf, 12: 90)
_4-Dalam ayat lain digandeng dengan kata *syukur*_, seperti dalam ayat:
إِنَّ فِيْ ذَلِكَ َلآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ (لقمان : 31)
_“Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”_. (QS. Luqman, 31: 31)
_5-Dalam ayat lain digandeng dengan kata *rahmat (kasih sayang)*,_ sebagaimana dalam ayat:
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ (البلد : 17)
_“Dan mereka saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih saying”_. (QS. Al Balad, 90: 17)
_6-Dalam ayat lain digandeng dengan kata *yakin,*_ sebagaimana dalam ayat:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا وَكَانُوْا بِآيَاتِنَا يُوْقِنُوْنَ (السجدة : 24)
*“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin - pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”*. (QS. As Sajdah, 32: 24)
*_Dalam hal ini maka sabar ada tiga bagian:*
_1- Sabar dalam bertaat kepada Allah_
_2- Sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan_
_3- Sabar terhadap ujian dan musibah yang menimpanya._
Seorang mu'min memang dituntut agar sabar dalam bertaat kepada Allah, bersabar dalam menjauhi kemaksiatan dan bersabar terhadap ujian dan musibah yang menimpanya. *Untuk mengimplementasikan semua itu*, _seorang mu'min harus ditempa sebulan penuh dengan puasa Ramadhan agar teguh hati dan kuat pendirian, sehingga ketiga dimensi sabar itu terpateri dan senyawa dengan jiwa setiap mu'min._
_*Coba bayangkan!*_
Untuk bersabar dalam bertaat kepada Allah seorang mu'min ditempa dengan melatih dan membiasakan diri melakukan *Qiyamul Layl* selama Ramadhan, serta bersabar menunggu saat berbuka puasa di siang hari sampai terbenam matahari.
_*Untuk bersabar dalam menjauhi kemaksiatan, seorang mumin ditempa dengan menahan dua pokok keinginan nafsu, yaitu nafsu makan minum dan nafsu sex sepanjang hari sebelum matahari terbenam atau waktu berbuka puasa.*_
Untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah, seorang mumin ditempa dengan menahan lapar dan minum tanpa mengeluh dalam keadaan dahaga bagaimanapun.
Dalam kondisi seperti inilah, Rasulullah ﷺ justeru memberi nama puasa itu sebagai *benteng, yang melindunginya*. _Sebagian ulama menyebutkan, yang dimaksudkan dengan benteng itu adalah pelindung dari kemaksiatan._ *Sebagian lainnya berkata:* _Benteng pelindung dari api neraka. Penafsiran variatif ini bukan berarti sebuah pertentangan, sebab setiap orang yang terlindung dari kemaksiatan pada akhirnya terlindung dari api neraka._ *Karena itu, Rasulullah ﷺ menganjurkan generasi muda yang tidak mampu kawin agar rajin berpuasa, sebab puasa menjadi pelindungnya yang mampu membendung syahwat sex.*
Hadits Abdullah ibnu Masud ra dari Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ أَحْصَنُ لِلْفَرْجِ . وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
(رواه البخاري ومسلم و أبو داود و الترمذي و النسائي)
"Hai generasi muda! Barangsiapa mampu kawin, kawinlah. Sesungguhnya kawin itu membuat mata lebih jinak dan kemaluan lebih suci. *Barangsiapa tidak mampu kawin berpuasalah, karena puasa dapat menekan nafsu".*
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasaai).
_*Jadi, puasa merupakan sarana pembentukan jiwa dan kehendak seorang mumin untuk memperteguh dan pemperkuat hati, sabar menghadapi berbagai sikon.*_ Karena itu, Rasulullah ﷺ memberi nama *_bulan Ramadhan, bulan sabar_*. _Tidak heran kalau pahala puasa itu amat besar, sehingga tak ada amal kebajikan lain yang mampu menandingi pahala puasa_.
Begitulah Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam hadits Abu Umamah ra:
قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مُرْنِيْ بِعَمَلٍ! قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ الله ِ! مُرْنِيْ بِعَمَلٍ! قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ . قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! مُرْنِيْ بِعَمَلٍ! قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ .
(رواه النسائي وابن خزيمة في صحيحه والحاكم و صححه وابن حبان)
Aku berkata: “Hai Rasulullah! Perintahkanlah suatu amal untuk saya”. Beliau bersabda: *“Berpuasalah, karena puasa tak ada bandingnya”*. Aku berkata:” Hai Rasulullah! Perintahkanlah suatu amal untuk saya”. Beliau bersabda: *“Berpuasalah, karena puasa tak ada bandingnya”*. Aku berkata: “Hai Rasulullah! Perintahkanlah suatu amal untuk saya”. Beliau bersabda: *_“Berpuasalah, karena puasa tak ada yang mengimbanginya”_*
(HR. Nasai, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya dan Al Hakim. Ibnu Hibban menyatakan Shahih).
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى خَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ سَيِّدنَِا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Oleh : KH. AHMAD SJINQITHY DJAMALUDIN
ِبسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ َأصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Malam ini kita telah sampai kepada Kultum Ramadhan Ketujuh, sekaligus pada malam ketujuh pula. Semoga Allah swt senantiasa mengabulkan puasa dan amal ibadah lain kita semua. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
Saudara-saudara! Di antara keutamaan bulan Ramadhan, *_(ulangi hadits pada Kultum Kedua)_* Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaymah dari Salman ra:
وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةُ
*“Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran,* *sedang kesabaran pahalanya adalah surga"*.
_Di antara hikmah puasa, setiap muslim belajar bersabar menahan segala keinginan nafsu, dan melatih memperteguh mental spiritual demi stabilisasi segala bentuk aktivitas dan emosionalnya_. *_Bukankah manusia dapat menjadi besar karena mampu mengatur dan mengendalikan segala macam bentuk aktivitas dan emosionalnya! Sebagaimana pula ia menjadi jatuh karena tidak mampu, atau lemah mengatur serta menahan aktivitas dan emosionalnya!_*
Ibnul Qayyim Al Jawzi رحمه الله berkata:
*Pada hakekatnya menurut etymologi, sabar ada tiga*, yaitu: _Menahan, kuat dan menghimpun._
Logikanya demikian:
1. *Bertahan atau Tahan Banting*
_Sabar ialah,_ *menahan diri ketika merasa gelisah.* *_Menahan lidah untuk tidak mengeluh atau mengadu. Menahan diri untuk tidak mengerjakan sesuatu yang tidak pantas._*
2. *Kuat atau hebat*
Dalam bahasa Arab, *obat dan jamu disebut Ash Shabir,* karena rasanya *sangat pahit*, yang disukai hanya ketika dalam keadaan terpaksa.
Dari pengertian bahasa ini, Al Ashmui berkata: _Apabila seseorang hidup penuh kesulitan, dia dikatakan seorang yang hidup penuh dengan kepahitan._
3. *Himpunan*, timbunan atau tumpukan
Sabar disebut demikian, _karena orang sabar_ mengerahkan dan menghimpun segala kemampuan untuk memerangi dan menahan segala macam kesedihan dan kegoncangan batin. Maka sebuah timbunan(صبرة), seperti tumpukan makanan, dalam bahasa Arab disebut *Shubratuth Tha`am*
(صبرة الطعام)
*Bulan puasa adalah bulan penuh up grading kesabaran.* _Kesabaran memang merupakan pangkal segala keutamaan perilaku dan mental spiritual seorang muslim._
*Marilah sifat-sifat berikut ini dihayati*:
_*Iffah (bersih diri)*_dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) untuk tidak mengikuti kesenangan nafsu.*
*_Kitman As sir (kuat menyimpan rahasia)_*, dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) untuk tidak senang dipuji dan tidak senang pamer kemampuan karena ingin dikagumi orang*.
_*Zuhd (berhati-hati terhadap hak sesama dan hak Allah)*_, dapat diraih karena mampu menahan diri (sabar) dalam memandang keindahan dunia.
*_Qana'ah (rasa puas hati)*_, dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) bersahaja,* yaitu merasa cukup terhadap apa adanya atau sabar menutupi kebutuhan orang lain ketika dia punya.
_*Hilm (penyantun)*_, dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) untuk memenuhi undangan seorang pemarah*.
*_Waqar (terhormat)_*, sifat ini dapat diraih karena mampu menahan diri (sabar) memenuhi undangan mendadak.
_*Shafh (pemaaf)*_ dapat diraih karena *mampu menahan diri (sabar) memenuhi undangan pendendam*. Dan seterusnya…………..
_*Demikian analisys Ibnul Qayyim Al Jawzi رحمه الله, _*bahwa *semua nilai martabat dalam agama, pada dasarnya selalu berhubungan dengan sabar, baik dari tingkat dasar sampai tingkat puncak.*
Lembaga _Ramadhan bukan sekedar membangun sabar menahan makan, minum dan seksual an sich. Walau sabar dalam hal semua ini mempunyai nilai kebaikan dan manfaat besar, tapi terminal akhir kurikulumnya jauh lebih luas dan lebih luhur. Puasa menuntun seorang muslim berlajar dan berlatih sabar secara utuh dan sempurna dalam berbagai dimensinya_. Dari situlah terungkap rahasia sabda Nabi ﷺ dari Abu Hurayrah ra:
فَإِذَا كَانَ صَوْمُ يَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ.فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ (رواه البخاري و مسلم )
“Maka apabila seseorang di antara kamu sedang berpuasa, janganlah berkata cabul dan jangan pula berteriak-teriak. *Jika dimaki seseorang atau ditengkari, katakanlah: Sungguh aku berpuasa! Sungguh aku berpuasa!”.* (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain riwayat Abu Hurayrah ra Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَ الشُّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ . فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ .
(رواه ابن خزيمة وابن حبان و الحاكم وقال صحيح على شرط مسلم)
*‘Bukanlah puasa itu karena menahan makan dan minum, melainkan puasa itu menahan ucapan yang tak berguna dan kata-kata cabul.* Jika dimaki seseorang, atau ditengkari, katakanlah kepadanya: Sungguh aku berpuasa! Sungguh aku berpuasa!.
(HR Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibban dan Al Hakim. Kata Al Hakim, Shahih atas Syarat Muslim).
*Karena sabar merupakan pondasi utama moralitas mulia yang tidak dapat lepas dengan semua kedudukan dan pangkat dalam Islam dan semua cabang iman,* tidaklah heran kalau tema ini diungkap panjang lebar dan rinci di dalam beberapa ayat surat-surat Al Qur’anul Karim.
_1. Pada sebagian ayat kata sabar digandeng dengan kata *shalat*_. Sebagaimana firman Allah (:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ الله َمَعَ الصَّابِرِيْنَ (البقرة : 153)
_“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang sabar”._ (QS. Al Baqarah, 2: 153)
_2. Dalam sebagian ayat lain digandeng dengan *amal shalih,*_ seperti dalam ayat:
إ إِلاَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ (هود : 11)
“Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal shalih” (QS. Huud, 11: 11)
_3-Dalam ayat lain digandeng dengan kata *taqwa*_. Seperti dalam ayat:
إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ الله َلاَ يُضِيْعُ أَجْرَ اْلمُحْسِنِيْنَ (يوسف : 90)
_“Sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”_. (QS. Yusuf, 12: 90)
_4-Dalam ayat lain digandeng dengan kata *syukur*_, seperti dalam ayat:
إِنَّ فِيْ ذَلِكَ َلآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ (لقمان : 31)
_“Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”_. (QS. Luqman, 31: 31)
_5-Dalam ayat lain digandeng dengan kata *rahmat (kasih sayang)*,_ sebagaimana dalam ayat:
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ (البلد : 17)
_“Dan mereka saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih saying”_. (QS. Al Balad, 90: 17)
_6-Dalam ayat lain digandeng dengan kata *yakin,*_ sebagaimana dalam ayat:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا وَكَانُوْا بِآيَاتِنَا يُوْقِنُوْنَ (السجدة : 24)
*“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin - pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”*. (QS. As Sajdah, 32: 24)
*_Dalam hal ini maka sabar ada tiga bagian:*
_1- Sabar dalam bertaat kepada Allah_
_2- Sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan_
_3- Sabar terhadap ujian dan musibah yang menimpanya._
Seorang mu'min memang dituntut agar sabar dalam bertaat kepada Allah, bersabar dalam menjauhi kemaksiatan dan bersabar terhadap ujian dan musibah yang menimpanya. *Untuk mengimplementasikan semua itu*, _seorang mu'min harus ditempa sebulan penuh dengan puasa Ramadhan agar teguh hati dan kuat pendirian, sehingga ketiga dimensi sabar itu terpateri dan senyawa dengan jiwa setiap mu'min._
_*Coba bayangkan!*_
Untuk bersabar dalam bertaat kepada Allah seorang mu'min ditempa dengan melatih dan membiasakan diri melakukan *Qiyamul Layl* selama Ramadhan, serta bersabar menunggu saat berbuka puasa di siang hari sampai terbenam matahari.
_*Untuk bersabar dalam menjauhi kemaksiatan, seorang mumin ditempa dengan menahan dua pokok keinginan nafsu, yaitu nafsu makan minum dan nafsu sex sepanjang hari sebelum matahari terbenam atau waktu berbuka puasa.*_
Untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan musibah, seorang mumin ditempa dengan menahan lapar dan minum tanpa mengeluh dalam keadaan dahaga bagaimanapun.
Dalam kondisi seperti inilah, Rasulullah ﷺ justeru memberi nama puasa itu sebagai *benteng, yang melindunginya*. _Sebagian ulama menyebutkan, yang dimaksudkan dengan benteng itu adalah pelindung dari kemaksiatan._ *Sebagian lainnya berkata:* _Benteng pelindung dari api neraka. Penafsiran variatif ini bukan berarti sebuah pertentangan, sebab setiap orang yang terlindung dari kemaksiatan pada akhirnya terlindung dari api neraka._ *Karena itu, Rasulullah ﷺ menganjurkan generasi muda yang tidak mampu kawin agar rajin berpuasa, sebab puasa menjadi pelindungnya yang mampu membendung syahwat sex.*
Hadits Abdullah ibnu Masud ra dari Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ أَحْصَنُ لِلْفَرْجِ . وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
(رواه البخاري ومسلم و أبو داود و الترمذي و النسائي)
"Hai generasi muda! Barangsiapa mampu kawin, kawinlah. Sesungguhnya kawin itu membuat mata lebih jinak dan kemaluan lebih suci. *Barangsiapa tidak mampu kawin berpuasalah, karena puasa dapat menekan nafsu".*
(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasaai).
_*Jadi, puasa merupakan sarana pembentukan jiwa dan kehendak seorang mumin untuk memperteguh dan pemperkuat hati, sabar menghadapi berbagai sikon.*_ Karena itu, Rasulullah ﷺ memberi nama *_bulan Ramadhan, bulan sabar_*. _Tidak heran kalau pahala puasa itu amat besar, sehingga tak ada amal kebajikan lain yang mampu menandingi pahala puasa_.
Begitulah Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam hadits Abu Umamah ra:
قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مُرْنِيْ بِعَمَلٍ! قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ. قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ الله ِ! مُرْنِيْ بِعَمَلٍ! قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ عِدْلَ لَهُ . قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! مُرْنِيْ بِعَمَلٍ! قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَهُ .
(رواه النسائي وابن خزيمة في صحيحه والحاكم و صححه وابن حبان)
Aku berkata: “Hai Rasulullah! Perintahkanlah suatu amal untuk saya”. Beliau bersabda: *“Berpuasalah, karena puasa tak ada bandingnya”*. Aku berkata:” Hai Rasulullah! Perintahkanlah suatu amal untuk saya”. Beliau bersabda: *“Berpuasalah, karena puasa tak ada bandingnya”*. Aku berkata: “Hai Rasulullah! Perintahkanlah suatu amal untuk saya”. Beliau bersabda: *_“Berpuasalah, karena puasa tak ada yang mengimbanginya”_*
(HR. Nasai, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya dan Al Hakim. Ibnu Hibban menyatakan Shahih).
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى خَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ سَيِّدنَِا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Oleh : KH. AHMAD SJINQITHY DJAMALUDIN
Yang Membatalkan Puasa
7 (TUJUH) HAL YANG SECARA TIDAK DISADARI DAPAT MEMBATALKAN PUASA KITA :
1. DUDUK
Duduk di warung padang kemudian memesan rendang adalah membuat kita batal tetapi kalo duduk dan ngobrol kemudian memesan es teh manis itu batal juga.
2. BERLARI KENCANG
Berlari kencang menuju warteg lalu memesan teh botol adalah dapat membatalkan puasa juga, apalagi setelah itu memesan Indomie rebus
3. MELEMPAR UANG LOGAM
Melempar uang Logam dapat membatalkan puasa jika lemparan uang tersebut ditangkap Penjual Es Degan kemudian Penjual
Es Degan menghadiahkan kita segelas Es Degan dan gorengan.
4. TERSENYUM
Tersenyum dapat membatalkan puasa jika kita tersenyum sehabis meminum Coca Cola dipinggir jalan kemudian memesan lagi Fanta dan Sprite.
5. MELAMUN
Melamun dapat membatalkan puasa jika sambil diiringi kepulan asap rokok dari mulut.
6. MAIN BBM dan WA
Main BBM dan WA juga dapat membatalkan puasa jika sambil diiringi minum kopi dan sepiring goreng pisang, tetapi kalo sambil ngerokok itu namanya keterlaluan…
7. KENTUT
Kentut sehabis makan ubi goreng juga dikategorikan sebagai hal yang membatalkan puasa.
Kentutnya aja udah membatalkan wudhu, apalagi makan ubi gorengnya.
Demikianlah 7 (tujuh) hal yg secara tidak disadari dapat membatalkan puasa...
Sebagai catatan: Makanan dan minuman yg dipesan klo gk dimakan/diminum tdk membatalkan puasa.
1. DUDUK
Duduk di warung padang kemudian memesan rendang adalah membuat kita batal tetapi kalo duduk dan ngobrol kemudian memesan es teh manis itu batal juga.
2. BERLARI KENCANG
Berlari kencang menuju warteg lalu memesan teh botol adalah dapat membatalkan puasa juga, apalagi setelah itu memesan Indomie rebus
3. MELEMPAR UANG LOGAM
Melempar uang Logam dapat membatalkan puasa jika lemparan uang tersebut ditangkap Penjual Es Degan kemudian Penjual
Es Degan menghadiahkan kita segelas Es Degan dan gorengan.
4. TERSENYUM
Tersenyum dapat membatalkan puasa jika kita tersenyum sehabis meminum Coca Cola dipinggir jalan kemudian memesan lagi Fanta dan Sprite.
5. MELAMUN
Melamun dapat membatalkan puasa jika sambil diiringi kepulan asap rokok dari mulut.
6. MAIN BBM dan WA
Main BBM dan WA juga dapat membatalkan puasa jika sambil diiringi minum kopi dan sepiring goreng pisang, tetapi kalo sambil ngerokok itu namanya keterlaluan…
7. KENTUT
Kentut sehabis makan ubi goreng juga dikategorikan sebagai hal yang membatalkan puasa.
Kentutnya aja udah membatalkan wudhu, apalagi makan ubi gorengnya.
Demikianlah 7 (tujuh) hal yg secara tidak disadari dapat membatalkan puasa...
Sebagai catatan: Makanan dan minuman yg dipesan klo gk dimakan/diminum tdk membatalkan puasa.
Thursday, 9 June 2016
KULTUM RAMADHAN MALAM KEENAM
*KULTUM MALAM KEENAM*
ِبسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ َأصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Malam ini kita telah sampai kepada Kultum Ramadhan Keenam, sekaligus pada malam keenam pula. Semoga Allah senantiasa mengabulkan puasa dan amal ibadah lain kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do’a.
Saudara-saudara! Allah swt berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِىْ أُنْزِلَ فِيْهِ اْلقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ اْلهُدَى وَ اْلفُرْقَانِ (البقرة: 185 )
_“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil._ (Al Baqarah,2:185).
Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan dengan tegas beberapa keistimewaan bulan Ramadhan, dari pada bulan-bulan yang lain, yaitu: _Diturunkan-Nya Al Qur'an-al Karim. Maka dalam bulan Ramadhan Al Qur'an diturunkan secara utuh ke *Baitul Izzah* di langit dunia pada waktu Lailatul Qadar, yang kemudian diturunkan kepada kita secara berangsur sesuai sikon selama dua puluh tiga tahun lamanya._ *Bahkan bukan Al Qur'an saja yang diturunkan pada bulan Ramadhan, melainkan semua kitab suci Allah yang lain juga diturunkan pada bulan Ramadhan kepada para nabi sebelumnya*.
Imam Ahmad meriwayatkan hadits Rasulullah ﷺ dari Waailah Ibnul Asqa' ra beliau bersabda:
أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مِنْ رَمَضَانَ ، وَاْلإِنْجِيْلُ لِثَلاَثََ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ اْلقُرْآنُ ِلأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ .
_“Telah diturunkan lembaran-lembaran kitab suci Ibrahim di awal malam Ramadhan, Taurat pada enam Ramadhan, Injil pada tiga belas Ramadhan dan Al Qur’an pada dua puluh empat Ramadhan”._
Ibnu Katsir رحمه الله dalam tafsirnya berkata: Dalam hadits riwayat Jabir bin Abdullah ra juga disebutkan:
اِنَّ الزَّبُوْرَ أُنْزِلَتْ لِثِنْتَيْ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَاْلإِنْجِيْلَ لِثَمَانِيْ عَشْرَةَ . والباقي كما تقدم . رواه ابن مردويه اهـ كلامه .
_“Sesungguhnya Zabur diturunkan pada tanggal dua belas Ramadhan. Injil pada tanggal delapan belas. Sedang sisa lainnya sebagaimana riwayat yang lalu”._ (HR Mardawayh).
*Kesimpulannya*: _Ramadhan adalah bulan Al Qur'an, karena Allah telah memilihnya sebagai bulan diturunkan-Nya Al Qur'an._
_Jibril as pun lazim datang berkunjung kepada Rasulullah ﷺ pada bulan Ramadhan, lalu bertadarus dengan beliau membaca Al Qur'an_ .
Ibnu Abbas ra meriwayatkan hadits:
كَانَ رَسُوْلُ الله صلى اللهُ عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ. وَكَانَ أَجْوَدَ مَايَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ. وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ . فَلَرَسُوْلُ اللهِ ( حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ مِنَ الرِّيْحِ اْلمُرْسَلَةِ (رواه البخاري ومسلم)
_“Rasulullah ﷺ adalah paling pemurahnya orang. Lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan, yaitu ketika temui Jibril lalu bertadarus Al Qur’an bersama beliau. Jibril biasa menemui beliau setiap malam bulan Ramadhan, lalu bertadarus Al Qur'an bersama beliau. Sungguh Rasulullah ﷺ ketika ditemui Jibril, amat cepat berderma, melebihi cepatnya angin lepas”_. (HR Bukhari dan Muslim).
_Kalau frekwensi semangat Rasulullah ﷺ ketika bersama Jibril as amat tinggi seperti itu, apakah tidak seharusnya kalau kita lebih bersemangat melebihi beliau! Utama sekali selama bulan Ramadhan dari pada bulan-bulan yang lain, mempelajari Al Qur'an, membaca, menghafalkan dan memperdalam kandungan hukum di dalamnya, yang halal dan yang haram. *Alangkah indahnya umat Muhammad yang senantiasa berkumpul di masjid-masjid selama bulan Ramadhan yang penuh barokah ini. Mereka mempelajari Al Qur'an. Sebagian belajar membaca bertajwid. Ada pula mempelajari tafsir ayat-ayatnya. Sebagian lagi membaca dan merenungi serta menghayati bimbingan-bimbingan dan pelajaran yang terkandung di dalamnya.* _Pertemuan semacam ini merupakan sebuah indikasi tertuangnya limpahan kebajikan dan anugerah Allah swt_
Abu Hurayrah ra meriwayatkan hadits Rasulullah ﷺ beliau bersabda:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ تَعَالَى يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ فِيْمَا بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ اْلمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ. (رواه مسلم وأبوداود )
*“Tiadalah suatu kaum yang berkumpul _di suatu rumah dari antara rumah-rumah Allah (masjid)_ sembari mereka membaca dan saling mempelajari Kitabullah, melainkan dituangkan kepada mereka rasa ketenangan dan rahmat serta diliputi malaikat. Dan Allah menyebut-nyebut mereka ditengah-tengah makhluk yang disisi-Nya”*. (HR Muslim dan Abu Dawud)
*Kandungan hadits ini berlaku secara umum bukan khusus untuk bulan Ramadhan, karena Ramadhan memang bulan melimpahnya pahala segala kebajikan!*
Ilmu yang paling utama dipelajari oleh seseorang adalah Al Qur'an-ul Karim dan segala yang berhubungan dengan Al Qur'an, sesuai hadits Rasulullah ﷺ dari Usman bin Affan ra:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري ومسلم وأبوداود والترمذي والنسائي وابن ماجة وغيرهم)
_*“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya”.*_
(HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majah dan lainnya).
_Maka tidak boleh seseorang berkecil hati, merasa dirinya bukan seorang berpendidikan tinggi dan merasa kesulitan belajar Al Qur'an. Besar kecilnya pahala, sesuai sulit-gampangnya perbuatan. Sulit belajar Al Qur'an membuat pahala berlipat ganda dari pada yang biasa-biasa saja_. Begitu tegas Rasulullah ﷺ dalam riwayat Aisyah ra:
اَلْمَاهِرُ بِاْلقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ اْلكِرَامِ اْلبَرَرَةِ. وَالَّذِيْ يَقْرَأُ اْلقُرْآنَ وَيَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ.
وفي رواية: وَالَّذِيْ يَقْرَأُهُ وَهُوَ يَشْتَدُّ عَلَيْهِ لَهُ أَجْرَانِ. (رواه البخاري ومسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجة)
*_“Orang yang pandai Al Qur’an, bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sedang yang membaca Al Qur’an bertatah-tatah karena merasa kesulitan, dia mendapatkan dua kali pahala”_*.
Di dalam riwayat lain dikatakan: _*“Orang yang kesulitan membacanya, dia mendapatkan dua kali pahala”*_.
(HR Bukhari, Muslim,Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaai dan Ibnu Majah).
_Saudara-saudara yang budiman!_
*_Al Qur'anul Karim adalah sebuah kitab suci, di dalamnya sarat dengan peringatan-peringatan yang membuat batu keras menjadi lunak_*. Begitulah Allah swt menegas-kannya:
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا اْلقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ . وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
(الحشر: 21)
*“Kalau sekiranya Kami turunkan Al Qur’an ini kepada gunung, pasti kamu melihatnya tunduk terpecah-pecah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”*. (QS. Al Hasyr,59: 21)
Al Qur'an juga di dalamnya mengandung banyak petunjuk dan bimbingan, hikmah dan kebenaran, menghantar umat manusia kepada kebaikan, menyelamatkan mereka dari segala kejahatan.
Allah swt berfirman:
إِنَّ هَذَا اْلقُرْآنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ اْلمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيْرًا (الإسراء:9)
*“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal shalih, bahwa bagi mereka pahala yang besar”* (QS. Al Isra,17: 9)
_Al Qur'an juga banyak mengandung anjuran ber-akhlak mulia dan peringatan untuk menjauhi perangai jelek, agar umat manusia dapat menduduki kedudukan mulia di mata sesama manusia itu sendiri apabila berperilaku akhlak Qur'ani_.
Allah swt berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَ شِفَاءٌ لِمَا فِيْ الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ (يونس: 57)
_“Hai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”_ (QS.Yunus,10:10)
وَنُنَزِّلُ مِنَ اْلقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ (الإسراء :82)
“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al Isra,17: 82)
_*Suatu hal yang perlu direnungi adalah, membaca Al Qur'an bukanlah sekedar dibaca begitu saja walau hal itu memang sudah mendapat pahala dari Allah. Tapi lebih dari itu, membaca Al Qur'an dituntut pula untuk direnungi dan dihayati keindahan untaiannya, diresapi peringatannya, diikuti perintahnya, dijauhi larangan-Nya.Tujuan anjuran mempelajari Al Qur'an adalah untuk mengetahui petunjuk-petunjuknya, bimbingannya, kewajiban yang wajib dijalankan dan hukum yang membedakan antara yang halal dan yang haram.*_
Allah swt berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيُدَبِّرُوْا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو اْلأَلْبَابِ (ص: 29)
_“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran bisa mendapat pelajaran”._ (QS. Shaad,38: 29)
Maka *_tidaklah sempurna_* membaca Al Qur'an tanpa perhatian dan penghayatan, atau mengulang-ulang kalimatnya _*tanpa direnungi dan diambil pelajaran dari padanya*_.
Begitulah Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud ra, bahwa pernah seorang laki-laki berkata kepadanya: *Semalam saya membaca utuh surat Al Mufashshal semuanya*. Abdullah berkata: *_Kamu baca dengan cepat tanpa dihayati, seperti membaca syair_*?!
Dalam membaca Al Qur'an hendaklah membiasakan diri membaca dengan penuh perhatian, sehingga Al Qur'an dapat membekas di dalam hati dan memberi dampak positif melalui bimbingan-bimbingan Al Qur'an yang dibaca. _*Membaca bukan sekedar ingin cepat selesai sampai akhir surat atau juz atau ingin cepat khatam*_.
Allah mengingatkan hal ini:
وَرَتِّلِ اْلقُرْآنَ تَرْتِيْلاً (المزمل: 3)
“Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan” (QS. Al Muzzammil,73: 3)
*Maksudnya*: Bacalah Al Qur’an itu dengan jelas yang sejelas-jelasnya perlahan-lahan.
Dalam ayat lain Allah berfirman:
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْـزِيْلاً (الإسراء: 106)
_“Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan ber-angsur-angsur agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”_. (QS. Al Isra,17: 106)
*Maksudnya:*
*_Al Qur'an agar dibacakan kepada orang lain dengan perlahan dan penuh penghayatan_*.
_Suatu hal yang aneh dan luar biasa, petunjuk Al Qur'an dapat dicapai oleh siapapun yang membaca, walau tingkat pendidikannya serendah apapun._
_Bimbingannya tak terhalang untuk siapapun yang mendengarkan dan meperhatikannya, walau dia seorang ummi, tidak tahu baca tulis._
*Setiap orang berbeda-beda medapatkan manfaat dari petunjuk dan bimbingan Al Quran, sesuai dengan kesiapan masing-masing untuk menimbanya.* *_Hati setiap orang berbeda_*:
_Ada yang jernih ada pula yang lebih jenrih._
_Ada yang peka dan ada pula yang lebih peka._
_*Namun semua itu pasti mendapat manfaat dalam membaca dan mempelajari Al Qur'an, sehingga iman mereka semakin bertambah.*_
Allah swt berfirman:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْـهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ (الأنفال: 2)
_“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”_. (QS. Al Anfal, 8: 2)
اَللَّهُمَّ اجْعَلِ اْلقُرْآنَ اْلكَرِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنَوِّرْ صُدُوْرَنَا وَشِفَاءَ أَحْزَانِنَا وَذَهَابَ غُمُوْمِنَا وَهُمُوْمِنَا. اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِّيْنَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِيْ يُرْضِيْكَ عَنَّا وَاجْعَلْهُ شَافِعًا لَنَا وَحُجَّةً عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .
_*Wahai Allah, jadikanlah Al Qur’an yang agung ini kesenangan hati kami, cahaya dada kami, obat pelipur duka kami, pelepas kesusahan dan kesedihan kami. Wahai Allah, ingatkanlah yang kami lupakan dari padanya. Ajarkanlah yang tidak kami ketahui dari padanya. Anugerahkanlah kepada kami membacanya sesuai bacaan yang Engkau senangi. Jadikanlah Al Qur'an ini syafaat dan hujah pembela kami di sisi Engkau. Wahai Dzat yang paling pemurahnya segala pemurah*._
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى خَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ سَيِّدنَِا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ
الْعَالَمين.
Oleh : KH. AHMAD SJINQITHY DJAMALUDIN
ِبسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ َأصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Malam ini kita telah sampai kepada Kultum Ramadhan Keenam, sekaligus pada malam keenam pula. Semoga Allah senantiasa mengabulkan puasa dan amal ibadah lain kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do’a.
Saudara-saudara! Allah swt berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِىْ أُنْزِلَ فِيْهِ اْلقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ اْلهُدَى وَ اْلفُرْقَانِ (البقرة: 185 )
_“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil._ (Al Baqarah,2:185).
Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan dengan tegas beberapa keistimewaan bulan Ramadhan, dari pada bulan-bulan yang lain, yaitu: _Diturunkan-Nya Al Qur'an-al Karim. Maka dalam bulan Ramadhan Al Qur'an diturunkan secara utuh ke *Baitul Izzah* di langit dunia pada waktu Lailatul Qadar, yang kemudian diturunkan kepada kita secara berangsur sesuai sikon selama dua puluh tiga tahun lamanya._ *Bahkan bukan Al Qur'an saja yang diturunkan pada bulan Ramadhan, melainkan semua kitab suci Allah yang lain juga diturunkan pada bulan Ramadhan kepada para nabi sebelumnya*.
Imam Ahmad meriwayatkan hadits Rasulullah ﷺ dari Waailah Ibnul Asqa' ra beliau bersabda:
أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مِنْ رَمَضَانَ ، وَاْلإِنْجِيْلُ لِثَلاَثََ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ اْلقُرْآنُ ِلأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ .
_“Telah diturunkan lembaran-lembaran kitab suci Ibrahim di awal malam Ramadhan, Taurat pada enam Ramadhan, Injil pada tiga belas Ramadhan dan Al Qur’an pada dua puluh empat Ramadhan”._
Ibnu Katsir رحمه الله dalam tafsirnya berkata: Dalam hadits riwayat Jabir bin Abdullah ra juga disebutkan:
اِنَّ الزَّبُوْرَ أُنْزِلَتْ لِثِنْتَيْ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَاْلإِنْجِيْلَ لِثَمَانِيْ عَشْرَةَ . والباقي كما تقدم . رواه ابن مردويه اهـ كلامه .
_“Sesungguhnya Zabur diturunkan pada tanggal dua belas Ramadhan. Injil pada tanggal delapan belas. Sedang sisa lainnya sebagaimana riwayat yang lalu”._ (HR Mardawayh).
*Kesimpulannya*: _Ramadhan adalah bulan Al Qur'an, karena Allah telah memilihnya sebagai bulan diturunkan-Nya Al Qur'an._
_Jibril as pun lazim datang berkunjung kepada Rasulullah ﷺ pada bulan Ramadhan, lalu bertadarus dengan beliau membaca Al Qur'an_ .
Ibnu Abbas ra meriwayatkan hadits:
كَانَ رَسُوْلُ الله صلى اللهُ عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ. وَكَانَ أَجْوَدَ مَايَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ. وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ . فَلَرَسُوْلُ اللهِ ( حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ مِنَ الرِّيْحِ اْلمُرْسَلَةِ (رواه البخاري ومسلم)
_“Rasulullah ﷺ adalah paling pemurahnya orang. Lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan, yaitu ketika temui Jibril lalu bertadarus Al Qur’an bersama beliau. Jibril biasa menemui beliau setiap malam bulan Ramadhan, lalu bertadarus Al Qur'an bersama beliau. Sungguh Rasulullah ﷺ ketika ditemui Jibril, amat cepat berderma, melebihi cepatnya angin lepas”_. (HR Bukhari dan Muslim).
_Kalau frekwensi semangat Rasulullah ﷺ ketika bersama Jibril as amat tinggi seperti itu, apakah tidak seharusnya kalau kita lebih bersemangat melebihi beliau! Utama sekali selama bulan Ramadhan dari pada bulan-bulan yang lain, mempelajari Al Qur'an, membaca, menghafalkan dan memperdalam kandungan hukum di dalamnya, yang halal dan yang haram. *Alangkah indahnya umat Muhammad yang senantiasa berkumpul di masjid-masjid selama bulan Ramadhan yang penuh barokah ini. Mereka mempelajari Al Qur'an. Sebagian belajar membaca bertajwid. Ada pula mempelajari tafsir ayat-ayatnya. Sebagian lagi membaca dan merenungi serta menghayati bimbingan-bimbingan dan pelajaran yang terkandung di dalamnya.* _Pertemuan semacam ini merupakan sebuah indikasi tertuangnya limpahan kebajikan dan anugerah Allah swt_
Abu Hurayrah ra meriwayatkan hadits Rasulullah ﷺ beliau bersabda:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ تَعَالَى يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ فِيْمَا بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ اْلمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ. (رواه مسلم وأبوداود )
*“Tiadalah suatu kaum yang berkumpul _di suatu rumah dari antara rumah-rumah Allah (masjid)_ sembari mereka membaca dan saling mempelajari Kitabullah, melainkan dituangkan kepada mereka rasa ketenangan dan rahmat serta diliputi malaikat. Dan Allah menyebut-nyebut mereka ditengah-tengah makhluk yang disisi-Nya”*. (HR Muslim dan Abu Dawud)
*Kandungan hadits ini berlaku secara umum bukan khusus untuk bulan Ramadhan, karena Ramadhan memang bulan melimpahnya pahala segala kebajikan!*
Ilmu yang paling utama dipelajari oleh seseorang adalah Al Qur'an-ul Karim dan segala yang berhubungan dengan Al Qur'an, sesuai hadits Rasulullah ﷺ dari Usman bin Affan ra:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري ومسلم وأبوداود والترمذي والنسائي وابن ماجة وغيرهم)
_*“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya”.*_
(HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majah dan lainnya).
_Maka tidak boleh seseorang berkecil hati, merasa dirinya bukan seorang berpendidikan tinggi dan merasa kesulitan belajar Al Qur'an. Besar kecilnya pahala, sesuai sulit-gampangnya perbuatan. Sulit belajar Al Qur'an membuat pahala berlipat ganda dari pada yang biasa-biasa saja_. Begitu tegas Rasulullah ﷺ dalam riwayat Aisyah ra:
اَلْمَاهِرُ بِاْلقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ اْلكِرَامِ اْلبَرَرَةِ. وَالَّذِيْ يَقْرَأُ اْلقُرْآنَ وَيَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ.
وفي رواية: وَالَّذِيْ يَقْرَأُهُ وَهُوَ يَشْتَدُّ عَلَيْهِ لَهُ أَجْرَانِ. (رواه البخاري ومسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجة)
*_“Orang yang pandai Al Qur’an, bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sedang yang membaca Al Qur’an bertatah-tatah karena merasa kesulitan, dia mendapatkan dua kali pahala”_*.
Di dalam riwayat lain dikatakan: _*“Orang yang kesulitan membacanya, dia mendapatkan dua kali pahala”*_.
(HR Bukhari, Muslim,Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaai dan Ibnu Majah).
_Saudara-saudara yang budiman!_
*_Al Qur'anul Karim adalah sebuah kitab suci, di dalamnya sarat dengan peringatan-peringatan yang membuat batu keras menjadi lunak_*. Begitulah Allah swt menegas-kannya:
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا اْلقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ . وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
(الحشر: 21)
*“Kalau sekiranya Kami turunkan Al Qur’an ini kepada gunung, pasti kamu melihatnya tunduk terpecah-pecah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”*. (QS. Al Hasyr,59: 21)
Al Qur'an juga di dalamnya mengandung banyak petunjuk dan bimbingan, hikmah dan kebenaran, menghantar umat manusia kepada kebaikan, menyelamatkan mereka dari segala kejahatan.
Allah swt berfirman:
إِنَّ هَذَا اْلقُرْآنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ اْلمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيْرًا (الإسراء:9)
*“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal shalih, bahwa bagi mereka pahala yang besar”* (QS. Al Isra,17: 9)
_Al Qur'an juga banyak mengandung anjuran ber-akhlak mulia dan peringatan untuk menjauhi perangai jelek, agar umat manusia dapat menduduki kedudukan mulia di mata sesama manusia itu sendiri apabila berperilaku akhlak Qur'ani_.
Allah swt berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَ شِفَاءٌ لِمَا فِيْ الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ (يونس: 57)
_“Hai manusia! Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”_ (QS.Yunus,10:10)
وَنُنَزِّلُ مِنَ اْلقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ (الإسراء :82)
“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al Isra,17: 82)
_*Suatu hal yang perlu direnungi adalah, membaca Al Qur'an bukanlah sekedar dibaca begitu saja walau hal itu memang sudah mendapat pahala dari Allah. Tapi lebih dari itu, membaca Al Qur'an dituntut pula untuk direnungi dan dihayati keindahan untaiannya, diresapi peringatannya, diikuti perintahnya, dijauhi larangan-Nya.Tujuan anjuran mempelajari Al Qur'an adalah untuk mengetahui petunjuk-petunjuknya, bimbingannya, kewajiban yang wajib dijalankan dan hukum yang membedakan antara yang halal dan yang haram.*_
Allah swt berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيُدَبِّرُوْا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو اْلأَلْبَابِ (ص: 29)
_“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran bisa mendapat pelajaran”._ (QS. Shaad,38: 29)
Maka *_tidaklah sempurna_* membaca Al Qur'an tanpa perhatian dan penghayatan, atau mengulang-ulang kalimatnya _*tanpa direnungi dan diambil pelajaran dari padanya*_.
Begitulah Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud ra, bahwa pernah seorang laki-laki berkata kepadanya: *Semalam saya membaca utuh surat Al Mufashshal semuanya*. Abdullah berkata: *_Kamu baca dengan cepat tanpa dihayati, seperti membaca syair_*?!
Dalam membaca Al Qur'an hendaklah membiasakan diri membaca dengan penuh perhatian, sehingga Al Qur'an dapat membekas di dalam hati dan memberi dampak positif melalui bimbingan-bimbingan Al Qur'an yang dibaca. _*Membaca bukan sekedar ingin cepat selesai sampai akhir surat atau juz atau ingin cepat khatam*_.
Allah mengingatkan hal ini:
وَرَتِّلِ اْلقُرْآنَ تَرْتِيْلاً (المزمل: 3)
“Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan” (QS. Al Muzzammil,73: 3)
*Maksudnya*: Bacalah Al Qur’an itu dengan jelas yang sejelas-jelasnya perlahan-lahan.
Dalam ayat lain Allah berfirman:
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْـزِيْلاً (الإسراء: 106)
_“Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan ber-angsur-angsur agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”_. (QS. Al Isra,17: 106)
*Maksudnya:*
*_Al Qur'an agar dibacakan kepada orang lain dengan perlahan dan penuh penghayatan_*.
_Suatu hal yang aneh dan luar biasa, petunjuk Al Qur'an dapat dicapai oleh siapapun yang membaca, walau tingkat pendidikannya serendah apapun._
_Bimbingannya tak terhalang untuk siapapun yang mendengarkan dan meperhatikannya, walau dia seorang ummi, tidak tahu baca tulis._
*Setiap orang berbeda-beda medapatkan manfaat dari petunjuk dan bimbingan Al Quran, sesuai dengan kesiapan masing-masing untuk menimbanya.* *_Hati setiap orang berbeda_*:
_Ada yang jernih ada pula yang lebih jenrih._
_Ada yang peka dan ada pula yang lebih peka._
_*Namun semua itu pasti mendapat manfaat dalam membaca dan mempelajari Al Qur'an, sehingga iman mereka semakin bertambah.*_
Allah swt berfirman:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْـهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ (الأنفال: 2)
_“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”_. (QS. Al Anfal, 8: 2)
اَللَّهُمَّ اجْعَلِ اْلقُرْآنَ اْلكَرِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنَوِّرْ صُدُوْرَنَا وَشِفَاءَ أَحْزَانِنَا وَذَهَابَ غُمُوْمِنَا وَهُمُوْمِنَا. اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِّيْنَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِيْ يُرْضِيْكَ عَنَّا وَاجْعَلْهُ شَافِعًا لَنَا وَحُجَّةً عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .
_*Wahai Allah, jadikanlah Al Qur’an yang agung ini kesenangan hati kami, cahaya dada kami, obat pelipur duka kami, pelepas kesusahan dan kesedihan kami. Wahai Allah, ingatkanlah yang kami lupakan dari padanya. Ajarkanlah yang tidak kami ketahui dari padanya. Anugerahkanlah kepada kami membacanya sesuai bacaan yang Engkau senangi. Jadikanlah Al Qur'an ini syafaat dan hujah pembela kami di sisi Engkau. Wahai Dzat yang paling pemurahnya segala pemurah*._
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى خَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ سَيِّدنَِا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ
الْعَالَمين.
Oleh : KH. AHMAD SJINQITHY DJAMALUDIN
Subscribe to:
Posts (Atom)