Wednesday, 8 June 2016
Nunggu Adzan Maghrib
PAHALA SHALAT TARAWIH
*KEUTAMAAN SHALAT TARAWIH DARI HARI PERTAMA SAMPAI HARI KE-30*
- Malam Pertama ,Orang mukmin keluar dari dosanya pada malam pertama, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
- Dan pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
- Dan pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.
- Pada malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Quran).
- Pada malam kelima, Allah Ta’ala memeberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.
- Pada malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
- Pada malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa As. dan kemenangannya atas Fir’aun dan Haman.
- Pada malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahin as
- Pada malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadatnya Nabi saw.
- Pada Malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
- Pada malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
- Pada malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.
- Pada malam ketigabelas, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
- Pada malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
- Pada malam kelima belas, ia di doakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.
- Pada malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
- Pada malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
- Pada malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru. Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.
- Pada malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.
- Pada malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan sholihin (orang-orang yang sholeh).
- Pada malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.
- Pada malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
- Pada malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
- Pada malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
- Pada malam kedua puluh lima , Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
- Pada malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
- Pada malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
- Pada malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
- Pada malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
- Dan pada malam ketiga puluh, Allah ber firman : Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hambaKu.
KULTUM RAMADHAN MALAM KEEMPAT
Malam ini kita telah sampai kepada Kultum Ramadhan Keempat, sekaligus pada malam keempat pula. Semoga Allah senantiasa mengabulkan puasa dan amal ibadah lain kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do’a.
Saudara-saudara! *Rasulullah ﷺ berpesan kepada kita agar memperbanyak melakukan dua hal yang membuat ِAllah menyenangi kita*, _utama sekali di dalam bulam suci Ramahan_, yaitu:
*Memperbanyak Syahadat Tauhid* sebagaimana kami terangkan pada Kultum Ketiga tadi malam, dan
*Memperbanyak istighfar*
Allah menciptakan umat manusia dengan dua unsur pokok, *rohani dan jasmani.* _Stabilitas jasmaniah banyak dipengaruhi oleh stabilitas rohaniah._
Allah menciptakan dua gejolak yang berlawanan di dalam jiwa setiap insan, yaitu motivator kebajikan, dan di satu pihak motivator kejelekan. Karena motivator yang kedua inilah manusia dapat terjerumus melakukan dosa-dosa, walaupun telah berusaha keras untuk menjauhinya. Allah (Maha Tahu, bahwa para hamba-Nya akan melakukan banyak dosa, karena itulah pintu taubat dan istighfar dibuka, dengan penuh rahmat dan karunia dari pada-Nya. Allah Maha Sayang kepada para hamba-Nya, sebagaimana ditegaskan Rasulullah ﷺ dalam hadits Qudsi, bahwa Allah (berfirman:
يَا عِبَادِيْ ! إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَ النَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُوْنِيْ أَغْفِرْ لَكُمْ
(رواه مسلم في صحيحه )
_“Wahai para hamba-Ku! Sesungguhnya kalian berbuat salah di malam dan siang hari. Dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, Aku akan mengampinimu._ (HR. Muslim dalam Shahihnya).
_Istighfar_ artinya permohonan ampunan. _Maghfirah_ artinya pengampunan, yaitu dihapuskan-Nya dosa dan dirahasiakan-Nya. Begitulah kata Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah. Maka seseorang yang mengucapkan Astaghfirullah - aku memohon pengampunan kepada Allah, dia seperti yang mengucapkan kalimat _Allahummaghfir lii-_ Wahai Allah! Ampunilah aku.
*Walaupun Rasulullah ﷺ seorang makhluk yang telah diampuni dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang, beliau masih memperbanyak Istighfar.* _Mengapa beliau demikian?_ Karena Istighfar salah satu dari antara ibadah-ibadah utama. Sebab dengan banyak membaca Istighfar Allah semakin senang kepada hamba-Nya. Sebagaimana kami terangkan pada hadits Salman dalam Kultum Malam Ketiga.
Demikian pula di dalam riwayat-riwayat lain tentang keutamaan memperbanyak Istighfar, seperti dalam hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurayrah ra pernah dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللهِ إِنِّيْ َلأَسْتَغْفِرُ الله َوَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ فِيْ الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً (رواه البخاري)
*“Demi Allah, sesungguhnya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”*. (HR Bukhari)
*Ibnu Umar ra juga pernah berkata*: Kami biasa menghitung bacaan Rasulullah ﷺ dalam sekali pertemuan, beliau membaca seratus kali:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ (رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن صحيح )
“Wahai Tuhanku! Ampunilah aku. Dan terimalah taubat untukku. Sesungguhnya Engkau Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang”.
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Kata dia: Hadits Hasan Shahih).
*Karena pentingnya Istighfar, di dalam Al Qur’an, ter-dapat di dalam berbagai tempat dan sikon*.
_Antara lain_:
1- Dalam bentuk perintah. Seperti:
وَاسْتَغْفِرُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ ( البقرة: 199 )
“Dan mohon ampunlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah,2:199 )
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْا إِلَيْهِ (هود: 3)
“Dan hendaklah kamu mohon ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya (QS. Hud,11: 3)
2- Dalam bentuk pujian kepada ahli Istighfar, seperti:
وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِاْلأَسْحَارِ (ال عمران: 15)
“Dan orang-orang yang membaca Istighfar di waktu-waktu sahur”
(QS. Ali Imran,3:15)
وَ الَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوْا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلَى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ (ال عمران: 135)
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka; dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?! Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.
(QS. Ali Imran,3:135)
3- Dalam bentuk ungkapan, bahwa Allah mengampuni siapapun yang beristighfar.
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوْءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُوْرًا رَحِيْمًا ( النساء : 110)
“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS. An Nisaa’,4:110)
4- Dalam bentuk ungkapan stimulasi kepada orang yang suka berbuat maksiat agar mendapatkan ampunan dari Allah.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ. إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا .إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ( الزمر: 53 )
“Katakanlah! Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar,39:53).
Allah mencintai hamba yang suka memohon ampun dan mengharap rahmat-Nya. Sebab Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Abu Hurayrah (meriwayatkan hadits Shahih, Rasulullah (, bersabda:
وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ تَعَالَى فَيَغْفِرُ لَهُمْ
(رواه مسلم )
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan kekuasaan-Nya, andaikan kalian belum pernah bebuat dosa, pasti Allah membiarkan kalian, lalu mendatang-kan suatu kaum berbuat dosa, kemudian mereka beristighfar lalu Dia mengampuni mereka. (HR. Muslim )
_Hadits ini, sama sekali bukan berarti mendorong kita untuk berbuat dosa, melainkan stimulasi agar senang beristighfar, dan menjelaskan bahwa Allah senang dimintai ampun dan mencintai hamba yang memohon ampun kepada-Nya_.
Abu Hurayrah ra meriwayatkan hadits Shahih dari Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ: رَبِّ أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِيْ . قَالَ اللهُ تَعَالَى : عَلِمَ عَبْدِيْ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَ يَأْخُذُ بِهِ . غَفَرْتُ لِعَبْدِيْ . ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا آخَرَ فَذَكَرَ مِثْلَ الأَوَّلِ مَرَّتَيْنِ (رواه البخاري و مسلم)
وفي رواية لمسلم قَالَ فِيْ الثَّالِثَةِ : قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِيْ فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ . أَيْ مَا دَامَ عَلَى هَذَا الحَالِ كُلَّمَا أَذْنَبَ اِسْتَغْفَرَ .
“Pernah seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu berkata: Hai Tuhanku! Aku telah berbuat dosa, maka ampunilah aku. Allah taala menanggapinya: Hamba-Ku tahu, bahwa dia mempunyai Tuhan yang meng-ampuni dosa dan menghukumnya. Aku telah meng-ampuni hamba-Ku itu. Tidak lama dia melakukan dosa lain. Maka Allah menanggapi yang kedua kalinya lagi seperti semula”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam riwayat Muslim, pada yang ketiga kalinya Allah menaggapinya: Aku telah mengampuni hamba-Ku. Maka lakukanlah semaunya. *Artinya*: Selagi hamba itu bersikap seperti semula, setiap melakukan dosa dia beristighfar.
1-Diampuni dosa-dosa
2-Hati menjadi bersih dan bening
3-Istighfar membersihkan bekas-bekas kemaksiatan dalam jiwa dan hati.
4- Hati tak ubahnya cermin. Setiap cermin kotor, dihapus mengkilat lagi. Demikian pula hati.
5-Kemaksiatan meninggalkan noda hitam dan kotoran di dalam hati setiap orang yang melakukannya. Setelah beristighfar, noda dan kotoran itu hilang, lalu hati menjadi bening kembali seperti cermin mengkilat.
6-Bagi yang berulang kali melakukan kemaksiatan, maka noda hati bertambah, sebanyak maksiat yang dilakukan. Bahkan sampai penuh menutupi hati berwarna hitam. Begitulah Abu Hurayrah ra meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ :
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِيْ قَلْبِهِ نُكْتَةٌ . فَإِنْ هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَتْ . فَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ , فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِيْ ذَكَرَ اللهُ تَعَالَى : كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلىَ قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
(رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح و النسائي وابن ماجة وابن حبان و الحاكم)
“Apabila seorang hamba melakukan suatu kesalahan, maka ternodalah hatinya dengan setitik noda hitam. Setelah lepas dan beristighfar, baru hatinya bersih dan bening kembali. Jika mengulang, bertambahlah noda-noda itu sampai menutup hatinya. Itulah yang disebutkan *Ar Raan* oleh Allah di dalam Al Quran: Sekali-kali tidak demikian. Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.
(HR. Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim. Kata Tirmidzi: Hadits Hasan Shahih.).
7- Harta dibuat-Nya subur dan barokah
8- Rizkinya dipermurah
9- Anak cucunya pun dibuat-Nya murah.
Allah menyatakannya melalui Nabi Nuh ﷺ :
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا .وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا . (نوح: 10)
“Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu yang lebat. Dan memperbanyak harta-harta dan anak-anak kamu, dan menjadikan untukmu kebun-kebun dan menjadikan pula untukmu di dalamnya sungai-sungai”. (QS. Nuh,7:10)
وَ يَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ ( هود: 52)
“Dan (Hud berkata): Hai kaumku! Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepadamu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (QS. Hud,11:52)
Ibnu Rajab Al Hanbali رحمه الله berkata: *Istighfar seutuhnya yang dapat membuahi pengampunan Allah adalah istighfar yang disertai dengan ketekadan hati untuk tidak mengulang kembali perbuatan dosa*, seperti yang dijanjikan Allah dan dipuji di dalam firman-Nya:
أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِيْنَ
(أل عمران: 136)
“Mereka itu balasannya, yaitu ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan inilah sebaik-baik pahala orang yang beramal”. (QS. Ali Imran,2:136)
*Menurut Ibnu Rajab*: Yang paling utama membaca Istighfar, hendaklah dimulai dengan pujian kepada Allah, lalu mengakui dosa yang telah dia lakukan. Setelah itu baru memohon ampun kepada Allah. Demikian itu, diterangkan dalam hadits Syaddad bin Aws ra dari Rasulullah ﷺ bersabda:
سَيِّدُ الاِسْتِغْفَارِأَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ : اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَ أَنَا عَبْدُكَ وَ أَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَ أَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
(أخرجه البخاري)
*“Penghulu Istighfar yaitu hamba Allah hendaknya mengucapkan: *_Allaahumma Anta Robbii laa ilaaha illaa Anta khalaq-Ta-nii wa ana ‘abdu-Ka wa ana ‘alaa ‘ahdi-Ka wa wa'di-Ka mastatha'tu, a'uudzu bi-Ka min syarri maa shana'tu abuu-u la-Ka bi ni'mati-Ka a'layya wa abuu-u bi dzanbii faghfir lii fa innahuu laa yaghfirudz dzunuuba illaa Anta_* - Wahai Allah, Engkaulah Tuhanku. Tiada Tuhan selain Engkau. Engkau telah menciptakanku, dan akulah hamba-Mu. Aku penuhi janjiku terhadap Engkau dan janji-Mu terhadapku sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari jahatnya perbuatanku. Aku mengaku kepada-Mu akan nimat yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan aku mengakui dosaku. Karena itu ampunilah aku. Sesungguhnya tak ada yang meng-ampuni dosa-dosa selain Engkau”.
(HR. Bukhari)
طُوْبىَ لِمَنْ وُجِدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارٌ كَثِيْرٌ (رواه ابن ماجة بإسناد صحيح)
“Berbahagialah orang yang di lembaran amalnya terdapat banyak Istighfa”r. (HR. Ibnu Majah dengan Isnad Shahih)
KULTUM RAMADHAN MALAM KETIGA
Malam ini kita telah sampai kepada Kultum Ramadhan Ketiga, sekaligus pada malam ketiga pula. Semoga Allah senantiasa mengabulkan puasa dan amal ibadah lain kita semua. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
Saudara-saudara! Telah kita singgung hadits yang lalu pada Kultum Kedua, yaitu hadits Salman ra yang diriwayatkan Ibnu Khuzaymah dalam Shahihnya, antara lain beliau bersabda:
وَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ -أي ِفْي رَمَضَانَ – مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: خَصْلَتَيْنِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غَنَاءَ بِكُمْ عَنْهُمَا. فَأَمَّا الخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَ تَسْتَغْفِرُوْنَهُ. وَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ لاَ غَنَاءَ بِكُمْ عَنْهُمَا فَتَسْأَلْوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ وَ تَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّاِر . الحديث
*“Perbanyaklah di bulan Ramadhan melakukan empat perkara* yaitu: _*Dua perkara membuat Tuhanmu senang, dan dua perkra lainnya membuat kamu puas tidak pernah kurang.*_ Dua perkara yang membuat Tuhanmu senang, adalah Syahadat dan Istighfar. Sedang dua perkara lainnya yang membuat kamu serba puas tidak pernah kurang adalah memohon surga kepada Allah dan dilindungi-Nya dari api neraka”.
*Empat perkara inilah* dianjurkan Rasulullah ﷺ agar kita perbanyak di dalam bulan suci Ramadhan yang penuh barokah ini. Syahadat Tauhid adalah pintu utama setiap muslim untuk memasuki Islam. Tidak shah Islam seseorang tanpa melalui pintu itu. Pintu Syahadat Tauhid menafikan segala bentuk ketuhanan selain Allah, diesakan hanya untuk Allah semata. Itulah *Kalimat Tauhid dan Kalimatul Ikhlash*, yaitu paling utamanya segala macam bentuk dzikir kepada Allah. Pernah Jabir bin Abdullah ra mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُ (رواه ابن ماجة والترمذي وقال حديث حسن )
Paling utamanya dzikir adalah *–Laa ilaaha illallaah*- Tiada tuhan selain Allah.
(HR Ibnu Majah dan Tirmidzi, dan dinyatakannya Hadits Hasan).
Semakin banyak seseorang membaca Kalimat Syahadat, ia semakin pula disenangi Allah swt. Karena itu Rasulullah ﷺ menganjurkan kita memperbanyak mengucapkannya, utama sekali di dalam bulan suci Ramadhan. Apabila kita telah disenangi Allah swt, maka dengan sendirinya kita telah meraih segala kebajikan dan puncak harapan. Membaca Kalimat Tauhid pada waktu-waktu di setiap bulan itu memang merupakan kebajikan yang besar pahalanya. Tapi, lebih besar lagi di bulan suci Ramadhan. Dari Abu Ayyub ra dari Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ , وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ – عَشْرَ مَرَّاتٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ (رواه البخاري و مسلم)
“Barangsiapa mengucap _-Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa alaa kulli syay-in qadiir_ tiada tuhan selain Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi Dia kerajaan dan bagi Dia pula puja puji. Dialah Maha Kuasa atas segala sesuatu-, sebanyak sepuluh kali, *maka orang itu mendapat pahala seperti pahala memerdekakan empat orang sahaya anak Ismail*.
(HR. Bukhari dan Muslim )
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ قَالَ لاَإلَِهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ –ِ ِفيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ لَهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلمَْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ (رواه البخاري ومسلم )
Dari Abu Hurayrah ra bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: *Barangsiapa mengucap sehari seratus kali* : _Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa a'laa kulli syay-in qadiir-_ Tiada tuhan selain Allah satu-satu-Nya. Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi Dia kerajaan. Dan bagi Dia pula puja puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu; *maka ucapan itu sebanding dengan pahala memerdekakan sepuluh orang sahaya, dicatat baginya seratus kebajikan, dihapus baginya seratus kejelekan dan baginya menjadi pelindung dari setan pada hari itu sampai sore. Tak seorangpun yang lebih baik dari pada dia, kecuali seseorang yang melakukanya lebih banyak dari pada dia* (HR. Bukhari dan Muslim)
Perlu diingat pula, *bahwa di dalam pengulangan kalimat Tauhid* _amatlah diperlukan renungan dan penghayatan,_ sehingga doktrin tauhid benar-benar terpateri di dalam hati setiap muslim yang membaca, dan diimplementasikan di dalam pola hidup keseharian. Karena itu, dengan penuh tazhim dia senantiasa berpola hidup yang disenangi dan diperintah Allah Yang Maha Esa. Dalam situasi dan kondisi seperti inilah kita melihat seorang muslim penuh taqwa kepada Allah dan percaya diri, karena dia hanya bergantung kepada Allah mengharapkan pahala dari Dia dan takut kepada siksa-Nya. Segala kebutuhan, dia hanya meminta kepada Allah, tidak meminta kepada sesama hamba-Nya. Segala ibadah dan pengorbanannya dihadapkan hanya kepada Allah semata, terlepas dari kepentingan-kepentingan peribadi, seperti popularitas atau sebagainya. Karena itu dia yakin, bahwa *bahaya dan manfaat, kebaikan dan kejelekan, dukungan dan hambatan, kaya dan miskin, sehat dan sakit, semuanya hanya di tangan kekuasaan Allah semata*, bukan di tangan sesama hamba-Nya. *Sekali hamba tetap hamba*. Begitulah ditegaskan Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Abbas (:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ( قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ ﷺ يوما فَقَالَ: يَا غُلاَمُ! إِنِّيْ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ , اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ , إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ , وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ , وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ , وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْكَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ , رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ (رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح )
Dari Ibnu Abbas ( berkata: Pernah aku dibonceng Rasulullah ﷺ lalu bersabda: “Nak! Kuajari kamu beberapa kalimat. *Yaitu: Peliharalah (ketentuan) Allah, maka Allah pasti memeliharamu. Peliharalah (ketentuan) Allah, pasti kamu dapatkan Dia menyertaimu. Apabila mau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Apabila meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. *Ketahuilah!*, _Sekalipun semua makhluk bersepakat untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberi suatu manfaatpun kecuali yang telah Allah takdirkan untukmu. Demikian pula, kalau mereka sepakat untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka sama sekali tidak akan dapat menimpakan suatu bahayapun, kecuali yang telah Allah takdirkan kepadamu_. *Catatan takdir telah berlalu. Maka selesailah semua urusan*. (HR. Tirmidz. Kata dia: Hadits Hasan Shahih)
Apabila akidah tauhid terpateri di dalam hati seorang muslim, kemudian dipertebal dengan memperbanyak mengucapkan kalimat *-Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah*- Tiada tuhan selain Allah satu-satu-Nya; tiada sekutu bagi-Nya *_maka terlepaslah dia dari penyakit-penyakit hati, antara lain:_*
_Penyakit menyenangi popularitas dan kebohongan_.
*Orang ini yakin*. _Untuk apa mencari popularitas di kalangan sesama, hanya bermaksud agar mendapat kepentingan. Untuk apa berbohong kepada sese-orang, hanya karena ditakuti dapat mendatangkan bahaya. Untuk apa semua itu dilakukan, pada hal semua ini hanya berada di tangan kekuasaan Allah?!_
*Penyakit suka kikir dan lokek*.
Untuk apa kikir! _Orang ini yakin dan tidak takut miskin. Untuk apa takut miskin, karena rizki semua makhluk ada di tangan kekuasaan Allah semata_.
*Penyakit pengecut, lemah hati dan patah semangat (wahn)*.
Orang ini yakin dan tidak takut. Untuk apa menjadi pengecut, lemah hati dan patah semangat, sementara hidup atau mati seseorang hanya di tangan kekuasaan Allah ?! *Tak satu makhluk pun berhak memajumundurkan kematian seseorang*.
Penyakit zhalim dan permusuhan.
Untuk apa berbuat zhalim dan permusuhan, kalau sadar bahwa dia selalu dalam pengawasan Allah. Siapakah yang dapat menyelamatkan dia setelah azab Allah datang akibat perbuatan zhalim dan permusuhan?!
Amatlah banyak pengaruh memperbanyak membaca Kalimat Tauhid terhadap pembentukan jiwa dan perilaku seseorang. Tidak heran kalau Rasulullah ﷺ senantiasa menganjurkan kita memperbanyak mengucap Kalimat Tauhid di dalam bulan suci Ramadhan khususnya, karena ia akan semakin disenangi Allah.
Menauhidkan Allah dan ikhlas kepada-Nya mempunyai kedudukan yang amat tinggi di dalam Islam. Ikhlas adalah buah tauhid. Puasa merupakan motivator untuk berperilaku ikhlas dan berbuat banyak kebajikan, yang tujuananya semata untuk Allah dan mengharapkan pahala dan ridha-Nya semata. Sebab puasa merupakan suatu ibadah yang tak dapat dideteksi oleh siapapun kecuali oleh Allah satu-satu-Nya. *Puasa itulah satu-satunya ibadah yang berkaitan langsung antara sang hamba dan Tuhannya*. Sebab itu, pahala puasa amatlah besar, tak ada batas dan hitungannya. Begitulah ditegaskan Rasulullah ﷺ di dalam As-Shahih, hadits Qudsi:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ ، اَلْحَسَنَةُ ِبعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ ……إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ
“Semua amal ibadah umat manusia dilipatgandakan pahalaanya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipatnya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu milik-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya”.
Begitu pentingnya usaha keras untuk meningkatkan amal ibadah kita dan membersihkannya dari tujuan kepentingan peribadi, penyebab terhapusnya pahala amal ibadah seperti popularitas dan pamir atau riya dalam bahasa agamanya. Begitulah ditegaskan Rasulullah ﷺ agar kita memurnikan niat hanya untuk Allah, di dalam sabdanya:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ( أَنَّ رَسُوْلَ الله ( قَالَ: قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ. مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ (رواه مسلم )
Dari Abu Hurayrah ra bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Allah berfirman: *Akulah yang paling tidak memerlukan sekutu dari persekutuan. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang di dalamnya ada unsur menyekutukan Aku terhadap selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya* . (HR. Muslim )
يَا أَيُّهَا النَّاسُ! اِتَّقُوْا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ. فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يَقُوْلَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيْهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: قُوْلُوْا :اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُهُ .
(رواه أحمد و الطبراني ورواته ثقات )
Saudara-saudara! Takutilah (jenis) kemusyrikan ini (riya-pamer). Sesungguhnya kemusyrikan ini lebih samar dari bunyi rayapan semut. Lalu seseorang bertanya: Mampukah kami menjauhi jenis kemusyrikan ini, sedang jenis kemusyrikan ini lebih samar dari pada rayapan semut wahai Rasulullah?! Beliau bersabda: Ucapkanlah kalimat-kalimat ini: *Allaahumma innaa na'uudzu bi-Ka min an nusyrika bi-Ka syaian na'lamuhuu wa nastaghfiru-Ka limaa laa na'lamuhuu*-Wahai Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu akan suatu yang kami ketahui. Dan kami mohon ampun kepada-Mu, akan sesuatu dosa yang tidak kami ketahui”.
(HR. Ahmad dan Thabrani. Semua perawinya Tsiqat).
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى خَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ سَيِّدنَِا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .
KULTUM RAMADHAN MALAM KEDUA
Kultum Kedua Ramadhan ini kami mengambil tema Keimanan.
Ramadhan adalah sebuah musim melimpahnya buah iman dan taqwa. Pintu-pintu kebajikan di hari-hari Ramadhan, sepanjang tahun selalu terbuka bagi semua orang melalui jalur puasa, tanpa mengenal jenis kebangsaan dan warna kulit, atau negara dan bahasa, atau di petak tanah yang manapun dari bumi Allah ( ini. Semua itu terbuka bebas untuk mereka, pintu-pintunya tak pernah tertutup sekejappun untuk mereka yang senang menyambutnya.
Di dalam Lembaga Pendidikan Keimanan inilah setiap individu muslim menjalankan penempaan jasmaniyah dan rohaniyah melalui praktek puasa sebulan penuh, sepanjang hari dan sebagian dari malam hari. Mereka mengasah taqwa dengan taubat dan istighfar. Mengikuti jalur-jalur steril maksiat dan bentuk kejahatan lainnya. Menempa qalbu menjadi ikhlas dan jernih. Penuh dzikir menerpa doa. Dari kehalusan batin selalu cemas akan adzab Allah, tapi senantiasa penuh harap akan rahmat-Nya. Segala hal dan kebutuhan semata digantungkan kepada-Nya. Dari penempaan jiwa inilah muncul kendali, meluruskan nafsu dan syahwat, membangkitkan semangat dan introspeksi, menatap masa depan dan meraih nilai-nilai luhur.
Maka dari Ramadhan itulah nilai-nilai kesabaran bermunculan dengan segala aspek dan prospeknya, sabar menanggung beban, sabar akan penderitaan, sabar menahan musibah dan cobaan, sabar melakukan ibadah dan Qiyamul Layl dan sabar menahan diri dari kemaksiatan dan dosa yang pada lahirnya amat mengasyikkan.
Dengan puasa, di dalam hati seseorang tertanam rasa senang berbuat baik kepada orang lain, solidaritas, shilaturrahim, mencintai kaum dhuafa, anak yatim, fakir miskin, bergotong royong untuk berbuat kebaikan dan taqwa. Bukan itu saja, bahkan dengan puasa pula di dalam hati seseorang dapat tumbuh rasa dermawan, membuat dia tidak suka mengabdi kepada harta karena bakhil. Sebab itu, dia berhati bersih, berperilaku dan bertutur kata baik. Bukankah kelak seseorang ditelungkupkan ke dalam api neraka karena buah lidah dan dosa-dosanya?! Maka dengan puasa itulah seseorang dapat mengekang lidah agar tidak mendapat murka dan azab Allah. Akhirnya setelah bulan Ramadhan, dipermukaan dunia ini tak ada seseorang yang suka memaki dan mencela serta mencerca. Tak ada ucapan cabul dan keji. Tak ada gosip dan adu domba. Tak ada umpatan dan celaan, baik dengan perbuatan, sikap ataupun ucapan. Tak ada penipuan dan persaksian palsu, karena lidah setiap umat manusia hanya suka berbuat kebajikan. Bahkan lebih baik memilih diam dari pada terperosok ke dalam jurang kejelekan.
Inilah penempaan puasa Ramadhan terhadap umat, membuat hubungan semakin kuat dan erat antara hamba dan Pencipta.
Ramadhan juga disebut bulan Al Quran, mengingat Al Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Allah ( berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ اْلهُدَى وَاْلفُرْقَانِ . فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ . وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ . يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ اْليُسْرَ وَ لاَ يُرِيْدُ بِكُمُ اْلعُسْرَ. وَ لِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى ماَ هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ (البقرة:185)
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
(QS. Al Baqarah 2:185)
Al Quran adalah Kitab Suci agama Islam yang penuh petunjuk, dan pemisah antara yang halal dan yang haram. Di dalamnya terkandung obat penyejuk hati dan jiwa. Membacanya penyegar iman dan pelita hati, melepas segala duka dan lara. Rasulullah (, mensinyalirnya, di dalam hadits beliau:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَاقْبَلُوْا مَأْدُبَتَهُ مَااسْتَطَعْتُمْ, إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ حَبْلُ اللهِ, وَالنُّوْرُ الْمُبِيْنُ, وَالشِّفَاءُ النَّافِعُ, عِصْمَةٌ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ, وَنَجَاةٌ لِمَنِ اتَّبَعَهُ, لاَ يَزِيْغُ فَيُسْتَعْتَبَ, وَلاَ يَعْوَجُ فَيُقَوَّمَ, وَلاَ تَنْقَضِى عَجَائِبُهُ, وَلاَ َيخِْلقُ مِنْ كَثْرَةِ الرَّدِّ. أُتْلُوْهُ فَإِنَّ اللهَ يَأْجُرُكُمْ عَلَى تِلاَوَتِهِ، كُلُّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، أَمَا إِنِّىْ لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ, وَلاَمٌ حَرْفٌ, وَمِيْمٌ حَرْفٌ
( رواه الحاكم وصححه)
“Al Qur’an ini hidangan Allah. Sambutlah hidangan-Nya menurut kemampuanmu. Al Qur’an ini tali Allah, cahaya yang jelas, dan obat manjur. Al Qur’an pelindung bagi yang berpegang kepadanya. Penyelamat bagi yang mengikutinya. Tak perlu diklarifikasikan karena tak ada yang meragukan. Tak perlu diluruskan karena tak ada yang bengkok. Digali sedalam bagaimanapun, keindahannya tak akan habis-habis. Diulang sebanyak berapapun tidak pernah membosankan. Bacalah! Allah senantiasa melimpahkan pahala. Setiap huruf sepuluh kebajikan. Aku tidak berkata Alif Laam Miim itu satu huruf. Melainkan Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf”.
(HR. Hakim dan dinyatakannya Shahih).
Rasulullah (, mensinyalir para shahabat, betapa besarnya keutamaan yang terkandung di dalam bulan Ramadhan. Berbahagialah seseorang yang lulus menempuh penempaan-penempaan Ramadhan. Amatlah besar perhatian Rasulullah (, terhadap para shahabat, agar tidak seorangpun di antara mereka ketinggalan mempergunakan kesempatannya di dalam bulan Ramadhan yang datang sekali dalam satu tahun. Tak seorangpun yang tahu, apakah ia akan hidup sampai Ramadhan mendatang, atau berakhir pada tahun ini saja sehingga tidak dapat memasuki lagi Ramadhan mendatang yang penuh keimanan dan taqwa?!
Salman ( pernah meriwayatkan khutbah Rasulullah (, di akhir Sya’ban antara lain bersabda:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ! قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، شَهْرٌ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً ، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا . مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِكَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ . وَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَ الصَّبْرُ ثَوَابُهُ الجَنَّةُ ، وَشَهْرُ الموُاَسَاةِ ، وَ شَهْرٌ يُزَادُ رِزْقُ المُؤْمِنِ فِيْهِ ، مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ وَ عِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِأَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئٌ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ !فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ أَوْ عَلَى شُرْبَةِ مَاءٍ أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ. وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ . مَنْ خَفَّفَّ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فِيْهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ وَ أَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ . وَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : خَصْلَتَيْنِ تُرْضُوْنَ بِهَا رَبَّكُمْ وَ خَصْلَتَيْنِ لاَ غَنَاءَ بِكُمْ عَنْهُمَا . فَأَمَّا الخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ تَسْتَغْفِرُوْنَهُ . وَ أَمَّا الخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ لاَ غَنَاءَ بِكُمْ عَنْهُمَا فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الجَنَّةَ وَ تَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ ، وَمَنْ سَقَى صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شُرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الجَنَّةَ .
(رواه ابن خزيمة في صحيحه ثم قال: إن صح الخبر ) للشيخ أبي عبد الرحمن ابن عقيل الظاهري رسالة بعنوان البرهان على تحسين حديث سلمان . انتهى فيها إلى أن الحديث حسن .
“Saudara-saudara! Sebentar lagi bulan Suci yang penuh berkah telah berada di hadapan kita. Pada bulan itulah terdapat semalam yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan. Allah telah mewajibkan kita berpuasa sebulan penuh pada bulan itu. Kita dianjurkan-Nya untuk Qiyamul Layl sebagai ibadah tambahan. Barangsiapa melakukan suatu kebajikan pada bulan itu, nilainya seperti melakukan ibadah fardhu di lainnya. Dan siapa melakukan suatu perbuatan fardhu di bulan itu, maka nilainya seperti melakukan tujuh puluh kali perbuatan fardhu di lainnya. Bulan Ramadhan disebut bulan sabar. Sabar, pahalanya surga. Disebut pula bulan peduli sosial. Bulan membuat orang mumin semakin bertambah rizkinya. Barangsiapa memberi buka puasa seorang berpuasa, maka diampuni dosa-dosanya, dibebaskan dari api neraka dan baginya pahala seperti pahala yang berpuasa tanpa berkurang sedikitpun. Shahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Tidak semuanya dari kami yang mampu memberi buka puasa kepada seseorang?!. Rasulullah saw menjawab: Allah memberikan pahala ini kepada siapapun yang memberi buka puasa, sebiji tamar, seteguk air atau seceguk susu. Bulan Ramadhan, awalnya penuh rahmat, pertengahannya penuh ampunan dan akhirnya penuh pembebasan dari api neraka. Barangsiapa memperingan beban sahayanya, Allah mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah di bulan Ramadhan melakukan empat perkara, yaitu: Dua perkara membuat Tuhanmu senang dan dua perkra lainnya membuat kamu puas tidak pernah kurang. Dua perkara yang membuat Tuhanmu senang, adalah Syahadat dan Istighfar. Sedang dua perkara lainnya yang membuat kamu serba puas tidak pernah kurang adalah memohon surga kepada Allah dan dilindungi-Nya dari api neraka. Barangsiapa memberi minum kepada seorang berpuasa, Allah memberinya minum dari tamanku, yang membuatnya tidak pernah kehausan sampai masuk surga.
(HR. Ibnu Khuzaymah dalam Shahihnya)
Apabila Ramadhan merupakan bulan panen segala kebajikan karena melimpahnya pahala segala bentuk kebajikan dan pengampunan dosa-dosa serta pembebasan dari api neraka yang memang hal itu menjadi tumpuan harapan setiap muslim penuh iman, maka merupakan suatu keharusan bagi kita untuk bergabung bersama para aktifis di dalamnya mengikuti segala macam kegiatan keimanan dengan penuh antusias, sehingga pada akhir Ramadhan dapat meraih ijazah berperingkat istimewa (Mumtaz), dengan diampuni-Nya dosa-dosa dan dibebaskan-Nya dari api neraka. Dari Jibril (, Rasulullah (, bersabda:
ا اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ (رواه الإمام أحمد بإسناد حسن)
“Puasa itu sebuah perlindungan, tempat hamba Allah berlindung dari api neraka”.
(HR Imam Ahmad dengan sanad Hasan).
Imam Ahmad meriwayatkan pula dari Abu Hurayrah ( dengan sanad Marfu’.
اَلصِّيَامُ جُنَّةٌ وَحِصْنٌ حَصِيْنٌ مِنَ النَّارِ
“Puasa adalah sebuah perlindungan dan benteng kokoh dari api neraka”.
اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لَنَا فِيْ هَذَا الشَّهْرِالكَرِيْمِ عِتْقًا مِنَ النَّارِ بِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى خَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ وَرُسُلِهِ سَيِّدنَِا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
KULTUM RAMADHAN MALAM PERTAMA
------------
KULTUM MALAM PERTAMA
Kullu ‘aamin wa antum bi khair. Selamat menyongsong bulan Suci Ramadhan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan ibadah di dalam bulan suci ini, utama sekali ibadah puasa dan Qiyamul Layl, serta diterima di sisi-Nya, sehingga kita, orang tua, isteri dan anak cucu kita dilepaskan dari api neraka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa hamba-Nya.
Saudara-saudara kekasih Allah!
Di antara karunia Allah kepada hamba-Nya, ialah diatur-Nya hukum alam bermusim. Bahkan untuk ibadahpun demikian. Maka para hamba Allah dalam suatu musim tertentu, lebih semangat menyingsingkan lengan baju, meningkatkan kwalitas iman dan taqwa, melalui kwalitas dan kwantitas ibadahnya. Mereka gigih meningkatkan semangat juang dalam menyingkirkan jauh-jauh sifat malas dan jenuh.
Di antara ibadah musiman, ibadah di bulan suci Ramadhan yang saat ini kita masuki hari pertamanya. Semoga Allah berkenan memberi kita kesempatan menyempurnakan segala macam bentuk ibadah sampai hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan ini, bahkan memberi kita usia panjang sehingga kita mendapat kesempatan besar, melaksanakan ibadah yang lebih sempurna di tahun-tahun mendatang, bersama taufiq Allah dalam ridha-Nya. Baik ibadah qawliyah, amaliyah atau qalbiyah. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Kuasa.
Saudara-saudara yang berbahagia!
Bulan suci Ramadhan adalah bulan musim penuh pahala ibadah. Bulan Ramadhan adalah bulan training menempa kita menjadi hamba Allah yang berkwalitas dan berbobot besar, membuat gaji umat Islam naik berlipat ganda kelak, serta menambah nilai disiplin akhlak dan perilaku yang semakin tinggi melalui jalur Islam. Allah menjamin kita dengan bimbingan, sebagaimana dalam firman-Nya:
يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. (البقرة: 183)
‘Hai orang-orang yang beriman! Telah diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.
(QS. Al Baqarah, 2:183)
Allah menjelaskan dalam ayat tersebut, bahwa tujuan puasa adalah taqwa. Logikanya, puasa yang dapat menghantarkan kepada taqwa itulah puasa yang memberi sukses dalam menjalankan training pendidikan keimanan Ramadhan. Demikian pula sebaliknya, puasa yang belum dapat menghantarkan kepada taqwa, adalah puasa yang belum berarti dalam melaksanakan training pendidikan keimanan Ramadhan. Akibatnya, orang itu tidak berhak untuk mendapatkan Ijazah Tanda Lulus , yaitu Al Itqu minan Naar selamat dari api neraka. Ijazah semacam inilah harapan semua hamba Allah yang tak ada taranya. Maka kegagalan ini, merupakan sebuah kegagalan besar yang tak ada bandingnya pula.
Amat besarlah kerugian orang-orang yang tidak lulus dalam Training Pendidikan Keimanan Ramadhan, sehingga terpaksa harus menerima doa laknat Jibril ( sebagaimana diterangkan Rasulullah (,:
عَنِ الحَسَنِ بْنِ مَالِكٍ بْنِ الحُوَيْرِثِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: صَعِدَ رَسُوْلُ اللهِ ( الِمنْبَرَ. فَلَمَّا رَقِيَ عَتَبَةً قَالَ آمِيْنَ. ثُمَّ رَقِيَ أُخْرَى فَقَالَ آمِيْنَ. ثُمَّ رَقِيَ عَتَبَةً ثَالِثَةً فَقَالَ آمِيْنَ. ثُمَّ قَالَ: أَتَانِيْ جِبْرِبْلُ عليه السلام فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ ! مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَأَبْعَدَهُ اللهُ. فَقُلْتُ: آمِيْنَ . قَالَ : وَمَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللهُ. فَقُلْتُ آمِيْنَ . قَالَ : وَمَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَأَبْعَدَهُ اللهُ. فَقُلْتُ آمِيْنَ . (رواه ابن حبان في صحيحه ورواه الحاكم من حديث كعب بن عجرة )
Dari Hasan bin Malik bin Al Huwayrits, dari ayahnya, dari kakeknya berkata: “Pernah Rasulullah (, naik mimbar. Ketika beliau menaiki tangga pertama tiba-tiba mengucap Amien. Setelah menaiki tangga berikutnya, beliau mengucap lagi Amien. Dan ketika menaiki tangga ketiga beliau pun mengucap Amien. Tak lama beliau bersabda: Jibril datang kepadaku berkata: Hai Muhammad! Barangsiapa mendapatkan Ramadhan, lalu tidak diampuni dosanya, maka Allah mengutukinya. Kataku: Amien. Jibril berkata: Barangsiapa mendapatkan kedua orang tuanya, atau salah seorang di antara keduanya, lalu masuk neraka, maka Allah mengutukinya. Kataku Amien. Jibril berkata: Barangsiapa, engkau disebut-sebut di sisinya, lalu tidak bershalawat kepada engkau, maka Allah mengutukinya. Aku pun berkata: Amien.
(HR Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, dan Al Hakim dari hadits Kab bin Ujrah ().
Dari sisi lain, Ramadhan memberi motivasi yang amat tinggi terhadap orang-orang berpuasa, dengan pahala yang berlipat ganda diraih selama Ramadhan. Salman ( menyatakan dalam khutbah Rasulullah (, tentang fadhilah Ramadhan, bersabda:
مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ ِبخَصْلَةٍ مِنَ الخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ. وَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ. )رواه ابن خزيمة في صحيحه(
“Barangsiapa mendekatkan diri (kepada Allah) dengan suatu kebajikan di bulan Ramadhan, maka nilainya seperti menunaikan suatu perbuatan fardhu di lain Ramadhan. Dan siapa menunaikan suatu perbuatan fardhu di bulan Ramadhan, maka nilainya seperti menunaikan tujuh puluh kali fardhu di lain Ramadhan.
(HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya)
Abu Hurayrah ra meriwayatkan hadits Qudsi dari Rasulullah (, Allah ( berfirman:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِىْ وَأَنَا أَجْزِىْ بِهِ, وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ – أى ِوقَايَةٌ مِنَ النَّاِر – فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ, فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ. وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّاِئِم أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الِمْسكِ, لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ, وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
( رواه البخارى ومسلم, وهذا لفظ البخارى)
“Setiap amal perbuatan anak Adam untuk dia (sendiri) kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Puasa itu benteng, yaitu pelindung dari api neraka. Maka ketika seseorang di antara kamu berpuasa, jangan berkata cabul dan jangan pula bertengkar. Jika ada seorang memaki atau menengkari, katakanlah (kepadanya): Aku berpuasa! .Aku berpuasa!. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan kekuasaan-Nya, sesungguhnya bau mulut seorang berpauasa, lebih harum di sisi Allah dari pada minyak kesturi. Orang berpuasa mempunyai dua kali kebahagiaan. Yaitu: Berbahagia ketika berbuka, dan berbahagia ketika bertemu Tuhannya dengan membawa puasanya.
(HR Bukhari dan Muslim, dengan lapal Bukhari)
Dalam riwayat Muslim juga dikatakan:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ. اَلحَسَنَةُ بِعَشْرِأَمْثَالِهَاإِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللهُ : إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَ أَنَا أَجْزِيْ بِهِ. الحديث.
“Setiap amal perbuatan seseorang dilipatgandakan. Satu kebajikan dilipatgandakan dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipatnya”. Allah berfirman: “Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya”.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ( قَالَ قَالَ النَّبِيُّ (: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
(رواه البخاري و مسلم و أبو داود و النسائي(
Dari Abu Hurayrah ( Nabi ( bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu”.
(HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasaai).
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ ( قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ( يُرَغِّبُ فِيْ قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِعَزِيْمَةٍ ثُمَّ يَقُوْلُ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه البخاري و مسلم)
Dari Abu Hurayrah ( berkata: Rasulullah (, biasa menganjurkan Qiyamul Layl di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ikhlas, bukan dengan perintah ketat. Kemudian bersabda: “Barangsiapa melakukan Qiyamul Layl di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim).
Di bulan Ramadhan itulah jalan ibadah dan ketaatan melimpah ruah, sementara itu hambatan-hambatannya ditumpas. Utamanya, setan-setan dibelenggu, sehingga orang Islam di bulan Ramadhan lebih selamat dari kejahatan ketimbang di luar Ramadhan.
Abu Hurairah ( meriwayatkan hadits, Rasulullah (, bersabda:
ِإذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ اْلجَنَّةِ وَ غُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ ( رواه البخاري و مسلم)
“Apabila Ramadhan datang dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah setan-setan”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau di bulan Ramadhan telah dibuka segala pintu kebahagiaan dan keberuntungan sebanyak itu, antara lain diselamatkan-Nya dari api neraka, sementara orang berpuasa masih ada saja yang bersembalewa dan tidak bersemangat untuk meraihnya di musim merebahnya buah-buah iman ini, sudah tidak ayal lagi kalau dia mendapatkan doa kutukan Jibril ( dalam hadits di atas.
Lalu, kapan seseorang akan diampuni dosanya kalau sudah tidak diampuni di bulan Ramadhan?! Dan kapan dia diselamatkan dari api neraka kalau tidak diselamat-kan di bulan Ramadhan?!
Kalau ditanya: Bagaimana cara kita mendapatkan keberuntungan dan kesuksesan di bulan puasa bulan Ramadhan ini?
Jawabnya: Caranya, harus melaksanakan ibadah puasa sesuai ketentuan Islam. Harus berperilaku sebagaimana akhlak yang terkandung dalam hikmah puasa Ramadhan. Harus menjiwai dan mengimplementasikan etika yang terkandung dalam hikmah puasa Ramadhan. Di samping itu harus menjauhi segala bentuk apa saja yang merusak puasa Ramadhan, baik ucapan, perilaku dan akhlak. Dengan kata lain, bahwa sasaran puasa adalah taqwa.
Kalau ditanya: Apa taqwa?
Jawaban singkatnya: Taqwa adalah berpegang teguh melakukan perintah Allah dan menjauhi apa saja yang dilarang-Nya.
Kita menyadari, bahwa jawaban singkat ini memerlukan penjelasan detail, bagaimana puasa yang sesuai tuntunan Syara; bagaimana mengimplementasikan akhlak yang terkandung di dalam hikmah puasa; bagaimana berpegang teguh kepada etika puasa dan bagaimana menjauhi segala bentuk yang dapat merusak puasa. Baik perilaku, ucapan atau perbuatan? Semua itu In Syaa Allah kami jelaskan pada kultum-kultum berikutnya.
Wednesday, 18 May 2016
gara-gara BBM & FB
Health
rumah tanggaku hancur karena fb dan bb. renungkanlah wahai saudariku
Namaku Lely. Berjilbab. Ibu rumah tangga dengan satu anak. Umur 26 thn tapi banyak yang bilang aku masih seperti gadis. Di sela-sela kesibukanku bekerja di konveksi, aku coba buka BB baru pemberian suamiku. Tak lupa ku coba buka akun facebookku. Kangen rasanya seru-seruan dengan teman- teman SMA dulu. Dari fb, ku mengenal laki-laki. Pemuda yang sukses dengan perdagangan dan pendidikannya.
Awalnya kami cuma saling like status lama kelamaan beralih saling berkirim pesan. Dalam pesan-pesan yang singkat kami pun saling rinci keadaan. Meski dia tahu aku istri dan ibu dari anak 4thn, dia tetap manis menanggapinya.
Dari situ, kami teruskan kirim pesan dengan saling berikan pin BB. Kirim foto dan berujung pada janjian adakan pertemuan. Aku benar-benar khilaf dan terbuai suasana. Dia memang lebih ganteng dari suamiku dan tak segan-segan memberikan sepatu, seragam sekolah, seragam olah raga dan tas mahal untuk anakku. Bayangkan untuk membeli barang tsb dia rela merogoh ATM nya.
Aku begitu terharu. Itulah awal pertemuanku. Hari berikut koment-komentny a mulai sedikit genit dan nakal. Dan anehnya aku makin terhibur dengan inbok-inbok nakalnya. Mulailah setan merayapiku. Aku tak segan-segan memberi foto telanjang dada permintaannya. Malam-malam yang ada penuh bunga-bunga bangkai bertebaran. Invite BB, FB dan mention twitter begitu berani, vulgar dan menantang birahi.
Aku gak menyangka, meski sudah beranak satu tapi masih ada perjaka yang menyukai. Belum lagi, di profilnya dia merupakan mahasiswa dari
salah satu perguruan tinggi di jogjakarta. Minggu itu, di pertemuan kedua, kami sudah langsung cek in hotel di kotaku jakarta. Sebulan dia di jakarta membuat kami sering adakan pertemuan hingga sampai pertemuan ke delapan. 3 bulan berlalu, aku mulai hamil. Aku merasa biasa saja. Tapi kedua orang tuaku bingung dan mempermasalahka. Pasalnya, sudah setahun suamiku kerja di pengeboran lepas pantai luar jawa. Dan sudah barang tentu tak pernah setahun ini menyentuhku. Aku tetap bilang pada mereka, bahwa ini adalah janin suamiku. Tapi kedua orang tuaku tetap menuduhku melakukan serong.
Akhirnya, suamiku pun dituntut pulang. Tanpa basa-basi, suamiku pun cek BB dan FB ku. Aku demikian bingung dan panik. Masih ada pesan-pesan nakal ku di situ. Aku menangis sejadi-jadinya. Menyembah-nyembah, bertekuk lutut di hadapan suami dan kedua orang tua kandungku.
“Menantuku, cepat ceraikan dia, biarlah aku kehilangan anak gadis dari pada kehilangan menantu dan cucu sebaik kamu.” kata ibuku “Dan kamu..!” ibu menudingku dengan mata berair. “Pergilah kemana kau mau, sekarang juga. Dan jangan pernah kau tampakkan wajah menjijikkanmu di hadapanku dan keluargaku.” Aku keluar rumah dengan tangisan anakku.
Bahkan untuk memelukpun aku tak diizinkan. Ku coba minta pertanggung jawaban dari lelaki itu, namun BB FB nya sudah tak aktif lagi. Ku beranikan diri datang ke jogja kampus dimana dia kuliah. Di KABAG kemahasiswaan, ternyata tak menemukan nama yang ku maksud. Aku tunjukkan foto wajahnya, dan ternyata tiada ditemui wajah yang seperti itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Kandunganku sudah hampir 6 bulan. Uang sangu pun menipis. Tak tahu kemana arah diuntung. Tak tahu Kemana nasib akan menuntun. BB dan FB benar-benar memporak -porandakan rumah tanggaku.
# ibu-ibu, bapak-bapak dan sahabat-sahabat ku yang baik, gunakan BB FB sesuai kebutuhan dan kemanfaatannya, bila tak ada manfaaatnya dan malah menjerumuskan kita kedalam kemaksiatan, maka demi keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, berhati hatilah main FB, chating dan invite BB. Silahkan share demi kebahagiaan rumah tangga orang-orang terdekat kita.